Begog: MATARAMAN DI PUSARAN PILGUB JATIM – Harry Tjahjono

Begog: MATARAMAN DI PUSARAN PILGUB JATIM – Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis Rakyat

Kemarin Mas Yusuf Hidayat, santri Tebuireng, Jombang, mengirimi foto dan kabar bahwa Alumni Tebuireng berijtihad di bawah bimbingan ulama sepuh KH Salahuddin Wahid yang akrab disebut Gus Sholah. Ijtihad tersebut mewujud dalam Barisan Gus Sholah (BAGUSS), yang bertujuan menggalang dukungan bagi pasangan Khofifah-Emil Dardak (KAMIL) di Pilgub Jatim 2018.

Sosok Khofifah yang identik dengan Muslimat NU, ketokohan kyai sepuh Gus Sholah dan ijtihad BAGUSS, memang berpeluang besar mendulang suara khalayak yang dalam “peta geopolitik" Jatim berada di wilayah Tapal Kuda yang Islami.

Tapi, jauh hari sebelumnya karib saya Mas Damarhuda, jurnalis senior media cetak, televisi yang kini mengelola portal online ngopibareng.id, sudah lebih dulu bergerak menggalang dukungan untuk Gus Ipul-Anas. Bahkan Mas Damar yang juga kampiun kegiatan off-air, sudah pula menggelar beragam acara di sejumlah Kota Jatim termasuk Madura. Sosok Gus Ipul yang kini Wagub Jatim dan keponakan Gus Sholah pula, serta prestasi Anas sebagai Bupati Banyuwangi, kiranya akan menjadi magnit yang mampu memikat masyarakat Tapal Kuda.

Menurut Begog, karib saya, persaingan mendulang suara khalayak Tapal Kuda kiranya bakal seru dan sengit. Tapi, perebutan suara di daerah yang dalam “peta geopolitik" disebut kawasan Mataraman, juga bakal tak kalah genting. Emil Dardak yang Bupati Trenggalek dan kader PDIP, lanjut Begog, agaknya diharapkan dapat merebut suara kawasan Mataraman–utamanya Trenggalek, Nganjuk, Bojonegoro, Kota dan Kabupaten Madiun, Ponorogo, Magetan dan Ngawi–yang masyarakatnya lazim disebut “abangan'".

Namun, dengan dipecatnya Emil Dardak sebagai kader PDIP yang mendukung Ipul-Anas, upaya Emil mendulang suara di Mataraman tentu tidak akan mudah. Khususnya di daerah eks-Karesidenan Madiun yang dikenal basis PDIP dan PKB. Sebab, kita tahu, PDIP dan PKB solid menjagokan Ipul-Anas.

Tempo hari saya juga dihubungi Mas Tito, kader PDIP Madiun, yang bilang bahwa pendukung militan PDIP lapisan sudah membentuk berbagai team di lapisan akar rumput. Tentu saja Emil Dardak masih bisa mengandalkan pengaruh Pakde Karwo, Ketua DPW Partai Demokrat Jatim yang asli Madiun dan sesepuh GMNI.

Tapi, kata Begog, karakter masyarakat “abangan'" itu unik, khas dan tidal mudah ditebak. Mereka sangat menghormati ulama tapi bukan berarti patuh tanpa reserve jika disuruh melakukan sesuatu yang tidak terkait dengan agama. Mereka mau saja hadir di acara-acara partai politik, tapi bukan berarti tunduk kepada perintah tokoh atau ketua partai untuk melakukan ini itu. Latar kultural masyarakat “abangan'", khususnya di wilayah eks-Karesidenan Madiun, membutuhkan pendekatan budaya yang pas dengan karakter mereka. Dan itu bukan perkara gampang. Dengan demikian, perebutan suara di Mataraman tampaknya juga bakal sengit dan tidak mudah dipetakan hanya oleh ulama dan politisi.

Itu kata Begog. Bukan sayaa…**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *