BEJO: FADLI ZON dan FAHRI HAMZAH tentang JOKOWI MANTU by Harry Tjahjono

BEJO: FADLI ZON dan FAHRI HAMZAH tentang JOKOWI MANTU by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

neoVista-Cuitan Fadli Zon (FZ) dan Fahri Hamzah (FH) yang menyoal hajatan mantu Presiden Jokowi, kita tahu, menuai ribuan reaksi pro kontra.

Memang cuitan yang cukup menarik untuk dikomentari. “Dlm 3 thn Pak @jokowi menikahkan 2 anaknya, tinggal 1 lg. Semua Presiden RI lain kalah dlm soal ini. Kerja kerja kerja," cuit Fadli Zon, Selasa (7/11/2017).

Sayang, FZ tidak membandingkannya dengan hajatan mantu Presiden Soeharto dan SBY sehingga cuitannya itu cenderung sekadar kegenitan nyinyir yang sumir. Kemarin, Minggu pagi, 19/11/2017, kembali mencuit , “Kesederhanaan zaman now!" seraya mengunggah link kompas.com tentang tujuh kereta kencana yang dipakai prosesi pernikahan Kahiyang Ayu dan Muhammad Bobby Afif Nasution yang didatangkan pada acara ngunduh mantu di Medan, Sumatera Utara. Pernikahan Kahiyang dan Bobby, kita tahu, diselenggarakan dalam adat Jawa dan Batak.

Mantu dan ngunduh mantu secara adat, lazimnya adalah suatu upaya “nguri-uri", memelihara dan melestarikan tradisi budaya leluhur. Keluarga Bobby yang membiayai acara ngunduh mantu, kiranya justru layak diapresiasi lantaran masih memegang teguh dua adat budaya leluhur Batak dan Jawa. FZ tentu paham bahwa merawat budaya leluhur ongkosnya tidak murah. Oleh karena itu saya sungguh terkesan dengan hobi FZ mengoleksi ribuan keris pusaka warisan budaya leluhur. Hobi yang mulia, meskipun bagi saya merupakan kemewahan yang jauh lebih mahal dibanding tarif sewa dan ongkos truk untuk kirim tujuh kereta kencana dari Solo ke Medan.

Di sisi lain, FH juga mengunggah cuitan yang mengkritisi hajatan mantu Jokowi. Tapi, saya lebih bisa menghormati FH karena pijakan argumentasinya jelas dan tidak terbantahkan, yakni menyoal jumlah undangan yang melebihi 400, sebagaimana batas maksimal yang diperkenankan dalam Surat Edaran MenPANRB Tahun 2014.

Harus diakui, dalam banyak hal, cuitan kritik pedas FH memang jauh lebih cerdas, lebih bernas dan lebih berkelas dibanding cuitan nyinyir FZ. Apa boleh buat. Bagi saya, sederhana itu buah pikiran yang jernih dan bersahaja. Bukan buah dari kehendak yang dikompori pretensi tendensius. Keluarga Jokowi mantu, keluarga Nasution ngunduh mantu, dan faktanya Presiden Joko Widodo tidak cuti, apalagi membolos. Ia tetap menjalankan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai Presiden. Sesederhana itu, sebetulnya.

Demikian BeJo.Begitulah Jokowi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *