Bejo: JOKOWI dan KIRAB BUDAYA MANOPOT HORJA by Harry Tjahjono

Bejo: JOKOWI dan KIRAB BUDAYA MANOPOT HORJA by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

Acara puncak Kirab Budaya Manopot Horja atau Ngunduh Mantu Kahiyang-Bobby dimeriahkan kereta asal Solo dan 15 sado yang didatangkan dari Kota Berastagi, puluhan becak bermotor, ratusan personel gabungan TNI dan Polri, dan ribuan Relawan Jokowi. Para personel gabungan dan relawan akan berjalan kaki sambil mengenakan pakaian adat masing-masing.

Sebelumnya, Kahiyang Ayu dianugerahi marga “Siregar" oleh pemangku adat Tapanuli Selatan Dan mendapat ayah angkat yang juga orang Batak. Dengan demikian terpenuhi adat yang mewajibkan pernikahan orang Batak adalah pernikahan antara laki-laki Batak dan perempuan Batak. Kahiyang diberi Boru Siregar. Dalam konteks pernikahan Batak ini, Jokowi dan Ibu Iriana akan menjadi seperti penonton saja.

Penghargaan dan komitmen Jokowi terhadap kelestarian budaya lokal dan nasional, dapat kita lacak sejak jadi Walikota Solo, Gubernur DKI dan selama menjabat Presiden RI.

Kepada puluhan ulama dari Jawa Tengah, di Istana Merdeka,Jakarta, Rabu (13/9/2017), misalnya, Jokowi menjelaskan peraturan presiden (perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter yang baru diteken beberapa waktu lalu. Jokowi berharap perpres ini bisa memberikan dasar pondasi bagi masyarakat, santri, dan anak didik sehingga dapat membentengi mereka dari intervensi budaya-budaya yang dikhawatirkan bisa menggerus budaya yang dimiliki Indonesia.

Ketika menghadiri Festival 1001 Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba di Tambolaka, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jokowi juga mendorong pemerintah daerah setempat melestarikan budaya lokal, sehingga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara dan domestik yang hasilnya bisa digunakan untuk menyejahterakan masyarakat daerah itu.

Dalam berbagai kesempatan, Jokowi tidak henti menyuarakan perlunya pelestarian adat dan budaya sebagai salah satu simbol pemersatu bangsa dan sangat penting untuk menangkal intervensi budaya asing.

Dalam perspektif budaya, kepatuhan dan penghargaan Jokowi terhadap adat tradisi Batak Manopot Horja tak lain adalah wujud komitmennya pada pentingnya upaya memuliakan dan melestarikan budaya asli Indonesia. Demi merawat kearifan budaya asli sebagai sumber inspirasi bangsa Indonesia, Jokowi bahkan merelakan putrinya diangkat anak oleh pemangku marga Siregar sehingga menjadi Kahiyang Jokowi Siregar.

Ketika ras, keyakinan, ideologi dan status sosial menciptakan jarak, bahkan memegaskan keterpisahan sesama manusia, maka budaya menawarkan jalan tengah dan solusi menuju kebersamaan menyongsong masa depan yang penuh harapan. Oleh karena itu, peran Jokowi dalam kirab budaya Manopot Horja dengan demikian adalah membangun infrastruktur jalan budaya yang akan membawa bangsanya ke masa depan peradaban Indonesia. Bukan lagi sekadar membangun ribuan kilometer jalan tol demi menyatukan keterpisahan wilayah geografis Indonesia.

Demikian Bejo. Begitulah Jokowi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *