Bejo: JOKOWI “DIGORENG” FADLI ZON by Harry Tjahjono

Bejo: JOKOWI “DIGORENG” FADLI ZON by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Pekerja Budaya

Presiden Joko Widodo hari Senin (4/12) akan meresmikan jalan tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) sepanjang 10,55 km. Tol Soraja yang berbiaya Rp1.4 triliun ini dipastikan akan membuka isolasi Soreang yang selama ini dikenal salah satu sentra industri rumahan untuk produk pakaian.

Selain itu, Jokowi juga akan menyerahkan 10.000 sertifikat tanah melalui program Pendataan Tanah Sistemis Lengkap (PTSL) BPN Kabupaten Bandung. Jadi ibarat pepatah “sekali kayuh dua pulau terlampaui"–seperti yang sering dilakukan Jokowi selama ini.

Dalam 2,5 tahun pemerintahannya, Jokowi memang gencar membangun infrastruktur dari Sumatera hingga Papua, antara lain berupa jalan tol, bendungan, pelabuhan dan bandara. Tentu saja itu butuh dana besar, salah satu pembiayaannya lewat utang. Tak heran jika selama 2,5 tahun itu jumlah utang pemerintah Indonesia naik Rp 1.062 triliun. Jika di akhir 2014 tercatat Rp 2.604,93 triliun, pada akhir April 2017 naik menjadi Rp 3.667,41 triliun.

Naiknya utang pemerintah tersebut serta merta disambar lawan politik Jokowi. Fadli Zon, misalnya, menyebut pemerintahan Jokowi memecahkan rekor pertumbuhan utang luar negeri. Pertambahannya hampir sama dengan jumlah utang periode kedua pemerintahan Presiden SBY. Bahkan, “Sejak Indonesia merdeka, inilah rekor utang tertinggi," kata Fadli, dalam keterangan tertulis, Rabu (12/7/2017).

Tentu saja tidak dijelaskan bahwa itu merupakan akumulasi utang warisan pemerintah sebelumnya, yang bunganya cukup besar sehingga menambah besar utang. Tidak pula dipaparkan besaran volume pembangunan infrastruktur yang sudah dicapai maupun proyek mangkrak yang berhasil diselesaikan. Tidak juga disebutkan bahwa infrasruktur yang dibangun Jokowi bahkan mencapai hingga jauh di pelosok-pelosok pedesaan!

Menyampaikan informasi yang adil, kita tahu, adalah cerminan karakter dan integritas mereka yang memihak obyektivitas. Sedangkan mencomot selisih angka sekadar bumbu matematis untuk digoreng secara cepat agar bisa disajikan panas-panas, lazim dilakukan oleh “politicking chef" alias koki politisi.

“Politicking chef" tidak sama dengan “political chef" atau koki politik. Saya tidak tahu apakah kedua profesi tersebut dikenal dalam dunia politik. Tapi, setidaknya, menurut saya koki politik adalah profesi yang ahli meramu menu sajian politik yang sedap, sehat dan bergizi. Sedangkan koki politisi adalah profesi yang cekatan menggoreng sajian politik untuk disuguhkan kepada politisi pemesannya.

Harus diakui, sedikitnya oleh saya sendiri, Fadli Zon adalah “politicking chef" yang paling intens dan konsisten menggoreng isu politik untuk mereduksi apapun yang dicapai pemerintah maupun yang dikerjakan Jokowi. Paparan hasil survey pribadinya yang menyebut bahwa di bawah pemerintahan Jokowi rakyat jadi hidup susah, memang telah berhasil mempermalukan Fadli Zon di acara ‘Siapa Lawan Jokowi?’ yang tayang live di Kompas TV, Jumat 27 Oktober 2017. Namun, sebagai “politicking chef" sampai sekarang ia tetap tekun menggoreng Jokowi.

Alhamdulillah, saya adalah rakyat biasa dan Jokowi adalah Presiden Republik Indonesia yang tidak mudah “tergoreng".

Demikian Bejo. Begitulah Jokowi.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *