Bejo: JOKOWI itu NDESO tapi TEGAS dan MESRA by Harry Tjahjono

Bejo: JOKOWI itu NDESO tapi TEGAS dan MESRA by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

Memang benar Jokowi itu ndeso (mestinya “ndesa"). Bukan priyayi berdarah biru trah bangsawan atau anak kolong putra jenderal. Bapaknya tukang kayu, ibunya hajjah dan ibu rumah tangga biasa. Lalu kenapa?

Jokowi itu ndeso karena penampilannya tidak modis walaupun jaket bomber dan payung biru yang dipakainya sempat ngetren se Indonesia. Jokowi ndeso karena setiap tata muka dengan rakyat kecil selalu ngasih teka-teki nama ikan dan menghadiahkan sepeda. Lalu kenapa?

Bagi kalangan yang mengharapkan pidato hebat dan gagah, teka-teki nama ikan adalah hal cemen dan remeh temeh. Tapi, bagi saya yang awam, teka-teki nama ikan bisa menjelaskan bahwa rakyat Indonesia punya sumber daya pangan bergizi yang mahabanyak di negeri bahari ini. Bagi saya, hadiah sepeda adalah ajakan untuk hidup sehat dan bersahaja. Tidak melulu mimpi nyicil motor atau mobil lantas hidup mewah yang bisa mendorong orang untuk korupsi.

Jokowi itu tegas karena ketika diisukan PKI bangkit lagi maka dia bilang, “Kalau PKI bangkit pasti saya gebuk!" Dasar hukumnya sangat jelas: TAP MPRS no 25 tahun 1966 yang melarang komunisme. Demikian juga kalau ada ormas yang antiPancasila dan merongrong NKRI, Jokowi dengan tegas menyatakan harus, “Dibubarkan." Dasar hukumnya juga jelas: Perppu Ormas yang sudah disahkan jadi UU Ormas. Dengan penegakan hukum secara tegas tanpa pandang bulu, kata Gus Dur, niscaya menegakkan demokrasi yang beradab dan bermartabat. Maka jika Jokowi tegas dalam penegakan hukum, lalu kenapa?

Jokowi juga mesra. Ketika Ibu Riana hendak menaiki tangga, misalnya, Jokowi dengan lembut meraih tangannya dan menggandengnya. Begitu pula ketika Jokowi tertawa karena tidak kuat menggendong Kahiyang, kemesraan dan kehangatan daya hidupnya memancar apa adanya.

Bahasa lisan, bahasa tubuh dan bahasa isyarat Jokowi, bagi saya, sederhana dan mudah dimengerti. Mengingatkan saya pada Isaac Newton yang secara sederhana menjelaskan teori gravitasi dengan anekdot apel jatuh–bukan dengan rumus fisika yang rumit, ilmiah dan sulit dipahami awam.

Mengingatkan saya pada Archimides yang meminjam anekdot berendam di bak mandi lantas berteriak “Eurika!" lantaran menemukan rumus Hukum Archimides yang menyatakan bahwa setiap benda yang tercelup baik keseluruhan maupun sebagian dalam fluida, maka benda tersebut akan menerima dorongan gaya ke atas (atau gaya apung). Besarnya gaya apung yang diterima, nilainya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh benda tersebut (berat = massa benda x percepatan gravitasi) dan memiliki arah gaya yang bertolak belakang (arah gaya berat kebawah, arah gaya apung ke atas). Rumus teoritis yangvrumot dan njlimet itu oleh sang jenius cukup dikomunikasikan kepada awam secara sederhana dan mudah dipahami lewat cerita bahwa air bak mandi yang tumpah ternyata berbanding lurus dengan volume dan berat tubuhnya yang terendam.

Teka-teki nama ikan, hadiah sepeda, kata gebuk, genggaman tangan dan tawa yang tulus Jokowi adalah bahasa rakyat biasa. Bukan pencitraan yang dibuat-buat. Bukan make-up atawa bahasa langit yang mengawang tinggi sehingga sulit membumi.

Demikian Bejo. Begitulah Jokowi.**

2 Komentar

  1. Mas Harry #presidenjamannow memang bertolak belakang dgn presiden jaman sebelumnya yang penuh corat- coret pencitraan. Jaman dulu dipenuhi ketimpangan akal dan budi. Makanya meski pak Bejo belum genap satu periode tapi prestasinya wow tapi harus mampu bikin rakyat jadi turut rejo, bukan bumn dan pejabatnya aja yang rejo.
    Ingetin Kang Bejo jangan seperti temen mas Harry,Rano Karno- Karena kagak kerja gagal jadi gubernur.
    Cocoknya memang mengulang2 kisah imajinasinya soal si Doel biar merasa berhasil terus. Pada hal Tuhan relah memberi kesempatan mewujudkan mimpi2 si Doel dlm nyata tapi yang dipilih hanya mimpi. Ampun Gusti!

    1. Author

      Hahaha siaaap, Mas Andy. Untung kebisaan Saya hanya kerka…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *