Bejo: JOKOWI PRESIDEN PENAKUT by Harry Tjahjono

Bejo: JOKOWI PRESIDEN PENAKUT by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Pekerja Budaya

Benarkah Jokowi Presiden penakut?

“Kalau dia Presiden kita kan enggak perlu takut datang," kata Fahri Hamzah, menyoal ketidakhadiran President Jokowi pada acara Reuni 212, Sabtu (2/12/2017) yang lalu. Padahal, kepada Ketua Panitia Reuni 212, Jokowi sudah pamit tidak bisa datang karena di hari yang sama harus menghadiri Puncak Hari Guru di Bekasi.

Di waktu yang lain, Fahri Hamzah menyesalkan keputusan Presiden menunda pembentukan Densus Tipikor Polri karena Jokowi takut terhadap popularitas KPK.

Tak hanya Fahri, dan sudah sering juga orang menyebut Presiden Jokowi takut ini takut itu. Saya terkadang takjub, tepatnya heran, kalau menyimak banyak orang dengan berani menyebut Jokowi takut pada Megawati, pada Menko Luhut, pada pemodal asing, pada aseng–dan entah karena lupa atau terlalu marah maka jarang ada yang bilang kalau Jokowi itu sebenarnya sungguh takut kepada Allah SWT.

Lalu benarkah Jokowi sungguh Presiden penakut?

Di Rapimnas Partai Golkar, Hotel Novotel Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (21/5/2017), Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, “Meski bukan dari kalangan militer, dan dibandingkan Presiden lainnya, Pak Jokowi pemimpin yang tegas dan galak. Kalau mau coba, ya coba saja." Dan Luhut mencontohkan kasus pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia.

Ketika muncul pro kontra saat Jokowi akan mengambil kebijakan bebas visa untuk 140 negara karena timbul kekhawatiran teroris akan lebih mudah masuk ke Indonesia, “Lho? Malaysia yang sudah bebas visa saja teroris nggak masuk. Ada saja alasan untuk nakut-nakutin Presiden. Saya ini enggak punya takut," tegas Jokowi di Rakornas Kadin 2017 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Tentu saja saya tidak tahu persis dan pasti tidak bisa mengukur besar kecil kadar keberanian maupun dalam dangkal lubang ketakutan di dalam nyali seseorang, apa lagi nyali presiden. Bahkan nyali saya sendiri pun tidak bisa saya deteksi.

Saya hanya sering kaget membaca banyak orang dengan sangat berani menulis kritik, ujaran kebencian, bahkan fitnah terhadap presiden dan keluarganya. Saya hanya bisa terpana takjub menyaksikan pendemo, politisi bahkan penyanyi pop laksana singa podium berorasi mengkritik, menuntut, mengolok-olok, bahkan mencaci-maki presidennya sendiri.

Agaknya demikian dahsyat yang namanya demokrasi. Sedemikian dahsyat demokrasi sehingga mampu melahirkan ribuan orator dan singa podium yang tak kenal takut lagi gagah berani.

Selain takjub, apa boleh buat, saya hanya bisa sering terkenang Jalaludin Rumi yang mengatakan, “Singa terlihat paling tampan ketika sedang mencari mangsa."

Dan, hemat saya, Jokowi mestinya bukan tergolong pria setampan singa.

Demikian Bejo. Begitulah Jokowi.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *