Bejo: KAMBING HITAM JOKOWI BUKAN “SATWA POLITIK” by Harry Tjahjono

Bejo: KAMBING HITAM JOKOWI BUKAN “SATWA POLITIK” by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Pekerja Budaya

Presiden Joko Widodo memelihara kambing .Bukan “satwa politik" kambing hitam, melainkan hewan beneran. Memang ada yang bulunya kehitaman, tapi nggak full hitam. Anak kambingnya malah totol-totol hitam putih mirip anjing dalmatian.

Dalam vlognya, tampak Jokowi mengenakan kaus berkerah dan jaket bomber, berjongkok dikelilingi kambing peliharaannya.

“Pagi ini saya merasa gembira sekali. Alhamdulillah, tadi pagi telah lahir lagi dua anak kambing yang saya pelihara. kata Jokowi membuka vlog-nya.Nih coba, lucu-lucu ini. Anaknya ada lima. Induknya ada lima. Jadi sekarang saya punya kambing totalnya sepuluh," kata Jokowi yang menganggap adalah sebuah anugerah dari Allah. Sebuah pembaharuan amanah dan berkah yang bermakna optimisme untuk masa depan."Di mana ada optimisme maka disitu ada kecintaan," ucap Jokowi dalam vlog itu.

Pesan yang sederhana, dan mudah dimengerti. Tapi saya lebih tertarik pertanyaan yang bermunculan di benak: kenapa kambing? Kan bau? Kenapa bukan hewan yang lebih eksotis dan lebih pantes di pelihara seorang Presiden? Kuda pacu atau hewan langka seperti yang banyak dipelihara pejabat, orang kaya dan artis, misalnya? Kenapa tidak dalam skala nasional seperti sapi Tapos-nya Pak Harto? Kenapa kambing? Pencitraan? Haha…

Saya tak bisa lain kecuali mendapat jawaban sederhana: karena pada dasarnya Jokowi itu rakyat biasa.Seperti halnya tetangga dan kerabat saya di desa yang merasa lebih afdol memelihara kambing daripada sapi, anjing ras, kuda pacu atau hewan langka yang merepotkan tapi tidak membantu menyejahterakan.

Mungkin juga Jokowi ingin memberi contoh dan mengajarkan kepada sesama rakyat untuk hidup hidup sederhana. Bisa jadi pula Jokowi justru mencontoh dan belajar dari sesama rakyat bagaimana nikmatnya menjalani hidup yang sederhana dan bermanfaat. Bukan hanya Jokowi, anak-anaknya rupanya juga memilih hidup sederhana.Berbisnis martabak, suatu jenis usaha yang juga bisa dilakukan rakyat biasa. Sepanjang pengetahuan saya, mereka juga tidak memelihara Ferrari, Lamborghini dan mobil yang pajaknya saja bisa ratusan juta perak.

Tentu saja saya bisa keliru menafsirkannya. Tapi realitas faktual adalah kenyataan yang tidak bisa saya palsukan.Orang bisa dan boleh menafsirkan kenyataan ada anak presiden bisnis martabak dan tidak naik Ferarri sebagai “kebodohan, tidak pantes, memalukan orang tua" dan seterusnya. Sedangkan saya melihatnya sebagai cara mensyukuri hidup sederhana.

Jokowi punya kambing 10 ekor.Tapi kalau misalnya ada yang mencari kambing hitam sebaiknya tidak di kandang kambing Jokowi. Di sana tidak ada yang full hitam, malah sebagian bercorak dalmatian. Entah kalau di Senayan.

Demikian Bejo. Begitulah Jokowi.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *