BEJO: PATUNG JOKOWI dan BALIHO JOMBLO by Harry Tjahjono

BEJO: PATUNG JOKOWI dan BALIHO JOMBLO by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

Patung lilin Presiden Joko Widodo pada 1 Mei 2017 mulai dipamerkan di Museum Madame Tussauds Hongkong, berlatar belakang Candi Borobudur.

“Saya minta latarnya setiap bulan diganti. Bisa Labuan Bajo, Bali, Raja Ampat, Danau Toba, terus diganti. Ini saya kira bagus untuk promosi pariwisata kita," kata Jokowi ketika mengunjungi Museum Madame Tussauds bersama Ibu Negara Iriana.

Jokowi merupakan Presiden Indonesia kedua yang dibuatkan figur lilinnya di museum itu. Sebelumnya, Madam Tussauds membuatpatung lilin Presiden Soekarno. Patung lilin Jokowi juga sekaligus menjadi satu-satunya kepala negara aktif di Asia Tenggara yang menghiasi museum Madam Tussauds.

Sebagai rakyat Indonesia, tentu saya senang, bangga dan bersyukur atas penghargaan Madam Tussauds kepada Bung Karno dan Jokowi. Faktanya, tidak semua presiden di dunia ini yang figurnya dipamerkan di tempat sehebat museum yang legendaris itu.

Tapi, wajar jika ada yang menganggap patung lilin Jokowi itu sebagai pencitraan, kultus individu, musyrik dan komentar miring lain. Maklum, sudah biasa jika apapun yang dilakukan Jokowi sering dikritisi. Sebab, bukankah bahkan ada Wakil Ketua wakil rakyat ( jabatan yang agak ganjil ya?) yang juga spesialis menyinyiri kebijakan maupun kebajikan Jokowi?

Misalkan penghasilan saya segede gaji anggota DPR, tentu saya akan pergi ke Hongkong untuk melihat patung lilin Jokowi. Untunglah rakyat berpenghasilan rendah seperti saya tidak perlu keluar ongkos banyak untuk ketemu Jokowi. Karena Jokowi sering blusukan ke pelosok Nusantara untuk menemui rakyatnya. Pada 6 Nopember 2017 lalu, misalnya, Jokowi datang ke Madiun, kampung halaman saya. Dan kepada sekitar tiga ribu petani, Jokowi menyerahkan SK tentang Pemanfaatan Hutan Kawasan Hutan Negara serta SK tentang Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan, di Kecamatan Dungus, Madiun, yang lantas diresmikan sebagai Dungus Forest Park. Alhamdulillah.

Patung lilin Jokowi adanya di museum Madam Tussauds Hongkong. Tapi, faktanya Jokowi yang asli hadir di tengah rakyatnya. Ini tentu berbeda dengan ribuan baliho tokoh yang tersebar di penjuru daerah namun sosoknya tidak pernah muncul secara nyata. Ribuan baliho yang menganggap sepanjang jalan kota dan pedesaan sebagai album foto yang boleh dipasangi rangkaian gambar diri berikut tagline dan semboyan gagah yang dalam bahasa kampung saya disebut “umbluk". Ribuan baliho jomblo karena pada akhirnya selalu kesepian sebelum akhirnya rusak menjadi sampah.

Dan setiap kali menyaksikan baliho jomblo yang rusak menyampah termakan waktu, saya jadi ingin pergi ke museum Madam Tussauds Hongkong untuk bergabung dengan orang-orang yang sedang nonton patung lilin Jokowi yang kata Ibu Negara Iriana, “99 persen mirip."

Demikian BeJo. Begitulah Jokowi. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *