Bejo: PRESIDEN YANG ANAKNYA BISNIS MARTABAK by Harry Tjahjono

Bejo: PRESIDEN YANG ANAKNYA BISNIS MARTABAK by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Pekerja Budaya

Sejak menulis serial Bejo, saya sering menerima pertanyaan: kamu dibayar berapa? Digaji siapa? Dijanjikan apa? Pertanyaan yang wajar, dan boleh saja. Karena selama ini saya memang menafkahi hidup dari honorarium nulis skenario, novel, cerita pendek atau esai. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Saya menulis serial Bejo semata ingin menyampaikan apa yang menurut saya perlu dan harus saya sampaikan–hal yang mungkin dianggap remeh dan luput dari pemahaman banyak orang. Kalau serial Bejo didakwa hanya mengungkap sisi positif Jokowi, itu semata karena saya tidak, tepatnya belum, menemukan hal negatif pada Jokowi. Saya terbiasa bersikap obyektif dan berpikir merdeka.

Bagi saya, anak seorang Presiden yang berbisnis martabak, catering, kaos dan bahkan putrinya pernah tidak lulus test masuk jadi PNS Pemkot Solo, adalah realitas faktual yang kasat mata. Saya tidak ingin membandingkannya dengan bisnis anak-anak Presiden RI sebelumnya. Tapi, lazimnya, anak Presiden tentu bisa mendapatkan kemudahan berbisnis tambang batubara, misalnya. Tentu punya privelese sehingga gampang mendulang permodalan skala besar untuk berbisnis seribu kali lebih besar dari sekadar merintis produk martabak.

Tapi kenapa anak-anak Jokowi tidak melakukannya? Apakah demi pencitraan bapaknya? Hemat saya tidak. Saya tidak kenal mereka, apalagi Jokowi. Tapi itu cukup menjelaskan bahwa anak-anak Jokowi tahu diri– cerminan karakter yang mampu menolak perbuatan koruptif!

Kembali pada soal sering menerima pertanyaan: kamu dibayar berapa? Digaji siapa? Dijanjikan apa? Dengan kepala tegak saya jawab: tidak, tidak, tidak!

Lagi pula apakah kalau menulis sisi positif Jokowi lantas ada yang mau membayar, seperti halnya kalau menulis sisi negatif atau bahkan memfitnah Jokowi? *

Demikian Bejo. Begitulah Jokowi.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *