Bejo: “STRATEGI KEBUDAYAAN” JOKOWI by Harry Tjahjono

Bejo: “STRATEGI KEBUDAYAAN” JOKOWI by Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Pekerja Budaya

Pesta pernikahan Kahiyang Ayu Siregar-Bobby Afif Nasution dalam adat batak Mandailing berlangsung meriah. Presiden Jokowi dan Ibu Iriana melakukan tari tortor didampingi kerabat terdekat, untuk menunjukkan bahwa Jokowi sekeluarga sudah menjadi bagian dari keluarga Siregar. Untuk itu, “Saya belajar nari tortor satu hari," kata Presiden seusai menjalani prosesi adat Margalanggang di Perumahan Bukit Hijau Regencyi, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (25/11).

Presiden juga mempersiapkan diri untuk memberikan petuah “ajar poda" kepada pengantin bersisip dalam bahasa Batak Mandailing. “Petuah pertama ‘Pantun Hangoluan, Teas Hamatean’, bahwa untuk hidup bahagia harus menjaga sopan santun. Kedua ‘Suan Tobu di Bibir, Dohot di Ate-Ate’, artinya manis bukan hanya di mulut, tapi juga di hati. Kebaikan yang dikatakan juga kebaikan yang dilakukan sepenuh hati. Ketiga “Tangi di Siluluton, Inte di Siriaon", artinya jika ada kemalangan, walaupun tidak diundang kita wajib berupaya untuk datang dan menolong. Namun jika ada kegembiraan, kita wajib datang kalau diundang. Sudah jelas sekali filosofi-filosofinya," kata Presiden menjelaskan.

“Dan pesan keempat adalah ‘Bahat Disabur Sabi, Anso Adong Salongon’ yang artinya kalau kita tidak menanam maka kita tidak akan memetik hasilnya. Jadi banyaklah berbuat kebaikan agar kita semua menuai kebahagiaan. Horas!" tegas Presiden.

Kirab budaya pesta adat pernikahan Kahiyang-Bobby yang diliput ratusan wartawan bahkan disiarkan langsung televisi, di sisi lain dapat menjadi momentum bangkitnya pariwisata budaya di kawasan Sumatera. Apa lagi kehadiran Presiden yang bukan sekadar tamu undangan melainkan menjadi bagian dari adat budaya Batak Mandailing, menjadi magnit bagi ribuan orang dari berbagai daerah untuk datang dan menyaksikannya secara langsung.

Kesediaan Jokowi yang asli Jawa untuk menjadi bagian dari keluarga Siregar yang Batak Mandailing, kiranya mencerminkan kesadaran untuk membangun “infrastruktur jalan budaya" demi menghubungkan dan menyatukan pertalian antarbudaya Nusantara yang Bhineka Tunggal Ika.

Bagi pengamat atau kaum oposan, pesta pernikahan Kahiyang-Bobby tentu saja bisa dikritisi sebagai pameran kemewahan dan konklusi sinis lainnya. Tapi, bagi saya yang rakyat awam, pernikahan Kahiyang-Bobby merupakan bagian dari “strategi kebudayaan" membangun dunia pariwisata Indonesia.

Apa lagi sehari sebelumnya, Jumat (24/1), Presiden Jokowi meresmikan terminal internasional Bandara Silangit, Tapanuli Utara, dan langsung meminta agar bandara tersebut diperluas lagi ahar dapat melayani penerbangan langsung ke Shanghai, Beijing, Tokyo, Dubai, bahkan Abu Dhabi. Dengan demikian Bandara Silangit dapat menjadi central pariwisata Indonesia selain Bali.

Pariwisata, kita tahu, adalah masa depan sumber devisa Indonesia yang terbarukan, yang berlimpah dan tak kunjung habis, yang melibatkan masyarakat awam setempat, yang padat karya dan hasilnya dapat dipetik langsung oleh rakyat biasa. Pariwisata bukanlah sumber daya alam seperti migas dan hutan, yang sulit terbarukan sehingga kelak akan habis tandas, yang hanya bisa dikelola dan dinikmati pemodal besar dan pengusaha asing, yang hasilnya tidak dapat dipetik langsung oleh rakyat kecil.

Bagi pekerja budaya seperti saya, “strategi kebudayaan" Jokowi dalam membangun masa depan pariwisata Indonesia memang tidak perlu dirumuskan secara ilmiah yang hebat, rumit dan sarat amdal, melainkan cukup mewujud dalam tindakan nyata. Yakni menjadi kesadaran, kesediaan dan keikhlasan untuk merawat, melestarikan, memuliakan serta menjadi bagian dari adat budaya Nusantara yang Bhineka Tunggal Ika. Rumusan yang konkret dan sederhana yang, sayangnya, tidak semua dari kita mampu dan mau melakukannya.

Demikian Bejo. Begitulah Jokowi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *