BEJO: IRWAN HIDAYAT dan BAKPO 8X3=23 Harry Tjahjono

BEJO: IRWAN HIDAYAT dan BAKPO 8X3=23 Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

BEJO: IRWAN HIDAYAT dan BAKPO 8X3=23
Harry Tjahjono

Awal November lalu, saya diajak makan siang oleh Irwan Hidayat, Dirut Sido Muncul di Plasa Senayan. Bukan makan bakpo, memang. Tapi, ketika pengacara Setnov bicara tentang benjolan di jidat Ketua DPR sebesar bakpo, mendadak saya ingat perbincangan dengan Mas Irwan tentang bakpo.

“Ibu saya selalu mengajarkan sikap mengalah kepada anak-anaknya. Dalam ajaran kebijaksanaan Tiongkok sikap mengalah itu ada dalam kisah murid Confucius, Yan Hui dan 8×3=23," katanya mengawal perbincangan bakpo.

Kisah 8×3 = 23 itu, lanjutnya, berawal dari pertengkaran antara Yan Hui dan pembeli bakpao. Harga satu bakpo 3 perak. Pembeli ambil 8 bakpo, tapi hanya mau membayar 23 perak karena menurutnya 8×3=23. Pertengkaran terjadi karena Yan Hui teguh menyatakan bahwa 8×3=24. Namun si pembeli tetap ngotot bahkan menantang, “Kalau benar 8×3=24 saya akam gorok leher saya," katanya sembari menempelkan golok di lehernya.

Karena tidak mencapai kata sepakat, keduanya menemui Confusius, Sang Guru, untuk menanyakan kebenarannya. Setelah mendengar duduk perkaranya, Sang Guru membenarkan si pembeli yang bersorak gembira dan berlalu pergi sambil mengacung-acungkan goloknya.

Yan Hui kaget dan kecewa. Maka Sang Guru menjelaskan bahwa, “8×3 memang 24. Tapi, kalau saya katakan itu, bagaimana kalau si pembeli tadi menggorok lehernya? Tentu akan hilang satu nyawa sedangkan kamu hanya mendapat satu perak dari selisih 23 perak itu."

Kemudian, sambil mengajari saya mencomot shushi dengan sumpit, Mas Irwan berkata, “Jadi 8×3=24 itu jawaban untuk orang pintar, tapi 8×3=23 perlu kebijaksanaan. Dalam menjalani hidup ini kadang tidak melulu harus diukur dengan yang masuk akal. Ada kalanya perlu bijak memahami keadaan dan harus rela mengalah serta berkorban demi kebaikan. Mengalah demi kebaikan, berkorban demi kebaikan, sangat perlu diterapkan dalam menjalani kehidupan."

Bakpo, belakangan ini menjadi sangat popular bukan karena kelezatannya melainkan setelah diibaratkan sebagai besarnya benjolan di jidat Setnov oleh pengacaranya. Benar tidaknya besaran benjol Setnov, kiranya tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab, ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar benjolan jidat sebesar megabakpo sekalipun. Yakni megakorupsi e-KTP. Oleh karena itu biarlah pengacara Setnov meyakini bahwa benjolan jidat kliennya sebesar bakpo, akan lapor HAM PBB dan seterusnya terserah beliau saja.

Mungkin kita hanya perlu menanggapinya seperti Jokowi yang sambil tersenyum menjawab pertanyaan wartawan bahwa, “Ya pokoknya Pak Setya Novanto harus bisa mematuhi hukum."
Jelas, tegas dan mudah dimengerti.

Demikianlah BEJO: Begitulah Jokowi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *