EKO WIDODO: “Persoalan di Kota Madiun Berakar dari Masalah Budaya Warganya”

EKO WIDODO: “Persoalan di Kota Madiun Berakar dari Masalah Budaya Warganya”

Kemunculan nama DR. Ir. Eko Widodo, MT, atau yang akrab disebut Ekowi,  sebagai kandidat Walikota Madiun bisa dibilang smoothly–kalem dan adaptif. Barangkali karena usianya yang sudah matang, berpendidikan tinggi, punya passion pada marwah budaya, dan putra asli Madiun.

Sejak awal, Ekowi sudah menyatakan akan mencalonkan diri lewat PDIP. Jauh sebelum mendaftar sebagai Bacawali di PDIP, Ekowi sudah pula menjalin komunikasi dengan pemangku PDIP dari tingkat pengurus ranting, Ketua DPC bahkan konon sampai petinggi DPP Madiun.

Sebuah langkah prosedural yang biasa-biasa saja. Tapi, dengan demikian Ekowi ibarat seekor banteng yang mengacungkan tanduk dengan  kepala yang menunduk ke bawah.  Bukannya justru mendongak dan mengabaikan akar rumput yang menghidupinya.

Sikap Ekowi yang sejak awal mengidentifikasikan diri dengan PDIP, barangkali akan menjadi catatan khusus dalam upayanya mendapat rekomendasi PDIP, yang kini diperebutkan tiga Bacawali. Di sisi lain, langkah dua kandidat kandidat pesaingnya yang juga mendaftar di partai lain, membuat  loyalitas dan komitmen Ekowi kepada PDIP semakin mengemuka. Peluang Ekowi mendapat rekomendasi PDIP, tampaknya juga diuntungkan oleh fakta bahwa ketiga Bacawali PDIP bukanlah kader partai.

Yang juga menarik dari sosok Ekowi adalah tagline BISA DIPERCAYA yang terpampang di spanduk dan media publisitas dirinya. Barangkali karena kandidat lainnya belum merilis tagline yang mumpuni, pernyataan BISA DIPERCAYA dari Ekowi tersebut dapat dibilang tanpa tanding.

Selain itu, di saat warga Madiun dikecewakan dan marah oleh kasus-kasus korupsi yang menjarah Madiun , tagline BISA DIPERCAYA yang dilansir Ekowi menjadi relevan dan kontekstual adanya.
Berikut ini petikan wawancara neoVista dengan alumnus ITB yang BISA DIPERCAYA memimpin Kota Madiun.

 Sejak kapan persisnya Anda mulai menyosialisasikan pencalonan menjadi Walikota Madiun? Media dan kegiatan apa yang menurut Anda paling efektif untuk memperkenalkan diri, misi dan visi Anda?

 Kira-kira mulai November atau Desember tahun 2016. Hampir setahun ini.
Tidak ada solusi tunggal untuk media sosualisasi. Kombinasi dari below dan above the line yang pas, mestinya efektif. Tergantung segmen target audience-nya.  Media cetak dan elektronik, misalnya, efektif utk menjangkau segmen elite dan literate, tetapi kurang utk grassroot.

 Sejauh ini, tampaknya Anda lebih sering menyosialisasikan program Anda ke masyarakat kecil. Bisa dijelaskan kenapa Anda lebih mengutamakan berkomunikasi dengan wong cilik?

 Alasan praktisnya karena masyarakat wong cilik ini adalah segmen terbesar pemilih. Di samping menyenangkan karena keluguannya, dan terus terang.
Alasan ideologisnya karena memang ideologi kerakyatan yang saya hayati sejak muda. Saya pengagum Bung Karno sejak saya SMA. Bung Karno dengan marhaenismenya.

 Anda juga secara khusus memfasilitasi kegiatan anak muda, misalnya menyelenggarakan festival film pendek, menyediakan studio musik. Apa yang Anda harapkan dari anak muda Madiun, bukankah banyak di antara mereka banyak yang belum cukup umur untuk mempunyai hak pilih?

 Target segmen pemilih pemula tetap menjadi pertimbangan saya, meskipun prosentasenya tidak sebesar, misalnya, segmen perempuan.
Kenapa anak muda ? Lebih karena visi dan keyakinan saya tentang pentingnya peranan anak muda bagi kota Madiun di jaman milenial ini.
 Anda juga menaruh perhatian pada kaum perempuan dan ibu-ibu. Apakah itu berarti Anda ingin kaum perempuan bisa punya peran lebih besar untuk membangun Madiun, atau karena alasan lain?
 Lagi-lagi alasan praktis dan ideologisnya ada.
Kaum ibu ini penggerak rumah tangga sesungguhnya, punya pengaruh pilihan ke keluarga, prosentasi jumlahnya signifikan, di samping loyalitas segmen ini tinggi

 Apa yang Anda harapkan dengan melibatkan diri dan mensupport kegiatan budaya yang sering diselenggarakan Jaringan Pekerja Budaya Madiun?
 Pertama, memang kebudayaan itu dunia saya bahkan sejak saya di SMP dulu, sampai kuliah di ITB.
Kedua, saya punya hipothesis, persoalan-persoalan di Kota Madiun ini, baik politik, maupun sosial ekonominya, berakar dari masalah budaya warganya.
Intinya, saya punya keinginan yang konkruen dengan teman-teman Jaringan Pekerja Budaya, untuk membangun Kota Madiun harus dimulai dari membangun budaya positif warganya. Inilah inti gerakan-getakan budaya yang saya tertarik ikut di dalamnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *