TRIDIANTO: Janji Politisi itu Harus Ditepati

TRIDIANTO: Janji Politisi itu Harus Ditepati

Setelah mundur dari Partai Demokrat, Tridianto kembali fokus berbisnis. Tapi, akhirnya pengusaha muda kelahiran Cilacap in kembali terjun ke dunia politik karena, “"‎Diminta sahabat saya, Mas Anas Urbaningrum, diminta bantu-bantu Pak Osman Sapta Odang (OSO)  di Hanura. Diminta membesarkan Hanura, khususnya di Jateng. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk kepengurusan," ucapnya.
Selain itu, alasan utamanya masuk Hanura karena partai tersebut tidak mengedepankan politik dinasti. “Hanura partai demokratis, dibangun tidak berdasarkan politik dinasti. Antara Pak Wiranto dengan Pak Oso tidak ada hubungan kekerabatan, tapi Pak Wiranto mempersilakan Pak Oso untuk memimpin," katanya.
OSO juga mempersilakan siapapun untuk memimpin Hanura, dan tidak menempatkan keluarga menjadi petinggi. “Tidak seperti Demokrat yang menerapkan politik dinasti," lanjut mantan Ketua DPC Partai Demokrat Cilacap itu.
Berikut petikan wawancara neoVista tentang kiat bisnis dan fatsun politik Tridianto yang akrab dipanggil Mas Tri.

Kata banyak orang, kunci sukses berbisnis itu kerja keras serta membangun dan menjaga kepercayaan. Kalau menurut pengalaman berbisnis Mas Tri bagaimana? 
 Bisnis itu kudu berani dan ulet. Berani ambil risiko karena bisnis itu kadang untung kadang rugi. Bisnis gak ada yang untung terus, tp juga gak ada yang rugi terus. Ya sama saja sama petani yg kadang tanamannya kena hama atau pas panen harganya murah. Ulet itu gak mudah menyerah. Gak ada bisnis yang sekali jadi. Ada mungkin, tapi itu yang warisan mbahnya atau bapaknya. Jadi kalau jatuh, kalau rugi harus tahan banting. Harus tetap coba lagi sampai ketemu suksesnya. Kalau cengeng gak mungkin sukses bisnis. Terus juga kepercayaan rekan kerja dan pelanggan itu wajib. Kalau tidak dipercaya ya itu tanda gak bisa maju. Jadi jaga kepercayaan itu juga wajib.

Sebelum sukses seperti sekarang ini, tentu Mas Tri pernah mengalami masa sulit bahkan kegagalan. Kapan dan kesulitan seperti apa yang  menurut Anda paling berat dan bagaimana mengatasinya? 
 Nyong mulai dari nol. Nol yg bener2 nol. Nyong belajar dari bawah betul. Sama dengan hidup nyong yang kecilnya memang penuh tantangan. Coba bayangkan nyong jadi tukang parkir, ya seperti itulah nyong belajar bisnis. Nyong sudah pernah merasakan pahit getirnya, jatuh bangunnya. Tp nyong pokoknya nekat belajar ingin maju, gitu aja. Skrg pun nyong belum besar. Tapi sudah lumayanlah.

Selama berkiprah di dunia politik, pengalaman apa yang membuat Anda merasa ingin terlibat lebih dalam dunia politik? Dan peritiswa apa yang membuat Anda ingin meninggalkan dunia politik?
 Nyong pada dasarnya suka kumpul-kumpul untuk belajar hal baru dan terkait sama urusan orang banyak, urusan daerah dan urusan negara. Nyong seneng aja dan selalu ingin hadir dan ikut serta. Apalagi kalau pas waktunya pemilihan nyong suka, seperti pileg, Pilpres, pilkades, kongres. Kakaknya nyong kan jadi kades. Tapi nyong gak kerasan kalau ketemu hal-hal yang gak cocok. Misalnya ketika Mas Anas digusur lewat cara kasar. Dikerjain lewat kasus hukum yg dipaksakan. Makanya nyong mundur juga waktu itu. Nyong suka politik yang damai dan dewasa. Kalaupun bertanding yg ksatria, jgn main tusuk dari belakang, jangan mendzalimi org lain. Yg kejam-kejam gitu nyong gak cocok.

Dalam politik, apakah faktor membangun dan menjaga kepercayaan juga menjadi kunci sukses politisi? Tapi bagaimana dengan kenyataan begitu banyak janji-janji politik yang ternyata tidak ditepati? 
 Politik juga kudu jaga kepercayaan. Sama aja dengan bisnis. Politisi kudu jaga kepercayaan pemilihnya, pebisnis kudu jaga kepuasan pelanggannya. Ya sama prinsipnya. Janji politisi harus ditepati kalau mau panjang kariernya. Kalau bohong, ingkar janji, ya akan ditinggal pendukung atau pemilihnya.

Kata Nikita Krushchev, politisi yang pernah menjadi Presiden Uni Soviet, “Politisi adalah orang yang bisa meyakinkan publik bahwa di suatu tempat harus dibangun jembatan, padahal di tempat tersebut tidak ada sungai." Bagaimana Anda memandang ucapan Krushchev tersebut?
 Nyong kurang tahu itu maksudnya. Mungkin politisi itu harus sangat meyakinkan, biar bisa mempengaruhi orang lain. Barang yg tidak ada pun bisa diyakinkan dengan imajinasi. Kan biasanya jembatan di bangun di atas sungai. Tapi bisa juga jembatan dibangun tanpa sungai, seperti jalan layang. Jadi kudu punya imajinasi yg kuat untuk meyakinkan. Nyong gak tahu Nikita Krushchev itu. Yg tahunya sih berita-berita tentang Nikita Mirzani. Kalau namanya Krushchev itu bukan dari wilayah ngapak, itu dari Soviet sana.
 
 Hahaha….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *