TRIDIANTO: “Nyong Pribumi Ngapak”

TRIDIANTO: “Nyong Pribumi Ngapak”

     Lelaki kelahiran Cilacap, 9 September 1977 dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses. Tahun 2001, berbekal modal seadanya,  pengetahuan tentang usaha yang minim dan kerja keras,       Tridianto berhasil meraih sukses sebagai pengusaha jamu. Pada tahun 2007, dia menutup usaha yang telah membesarkan dirinya itu, kemudian beralih ke usaha kuliner dan kontaktor.

Tridianto mengaku bukan anak orang berpunya. Usai sekolah dasar di Gentasari, Cilacap, Tri kemudian bersekolah di SMP Taman Siswa, Bandung. Pada saat menempuh pendidikan di Bandung itu, Tri mengaku sambil bekerja untuk biaya sekolah dan makan sehari-hari. Dia melanjutkan pendidikannya di sebuah SMA di Banyumas. Usai sekolah SMA itulah, dia mulai menekuni banyak usaha.

“Saya pernah bekerja sebagai tukang parkir, pencuci kaca mobil di lampu merah, dan buruh pencuci piring waktu sekolah di Bandung," katanya.
Trip terjun di dunia politik sebagai Ketua DPC Demokrat Cilacap. Namanya mencuat ke panggung nasional lantaran berani menentang Presiden SBY yang juga petinggi Demokrat. Nyali dan kecerdasannya bahkan pernah membuat Ruhut Sitompul yang membullynya mati kutu.

Lugas, blak-blakan tanpa tedeng aling-aling dan smart, membuat sosok Tri sering menjadi narasumber yang menarik. Ketika istilah pribumi dalam pidato Anies Baswedan sesaat setelah dilantik jadi Gubernur DKI viral di medsos,  Tri dengan kocak dan tajam mengetwit ,"Nyong pribumi ngapak."
Berikut DIALOSTA dengan Tridianto dalam logat ngapak yang kental, bernas dan otentik

Tidak sedikit orang menjadi politisi karena bertujuan mencari uang di dunia politik. Atau karena butuh pekerjaan. Apa pendapat Mas Tri terhadap realitas faktual seperti itu? Bagaimana pula Mas Tri menyikapi kenyataan tersebut?

 Nurut nyong politik itu bukan pekerjaan. Jadi politisi bukan seperti mencari pekerjaan. Kan politik itu ngurusi kepentingan rakyat. Jadi kalau mau cari kerja, cari duit ya jangan di politik. Kalau mau cari duit banyak ya bisnis, jadi pedagang minyak, jadi pedagang properti, bikin pabrik jamu, jadi pedagang sembako dll. Itu hasilnya besar. Kalau politik ya bukan untuk cari duit. Bahwa politisi yang baik dan profesional kudu dihargai biar hidupnya juga cukup, ya itu sudah seharusnya. Kan zalim juga kalau politisi ditugasi berat tapi gak diperhatikan kehidupannya dan anak-anaknya. Ya memang masih ada orang masuk politik seperti nglamar kerja untuk cari penghidupan. Kan mmg demokrasi kita blm maju, ekonomi juga belum makmur-makmur banget. Wajar kalau masih ada yang gitu orientasinya. Nanti bertahap pasti ada perbaikan kok. Nyong optimis.

 Menurut Mas Tri, apakah sebaiknya orang terlebih dulu harus punya materi yang cukup supaya bisa menjadi politisi yang benar-benar fokus mengurus kepentingan rakyat?

 Raiso gitu juga. Kalau masuk politik kudu sugih dulu, itu juga tidak sehat. Nanti politik hanya diisi orang-orang kaya saja. Nantinya malah dunia politik jadi pertandingan antar orang kaya. Kan politik bukan adu sugih. Yang penting ketika masuk politik niatnya baik untuk ngurusi kepentingan orang banyak atau rakyat dan punya modal kemampuan. Ada teman-teman yang tidak kaya, dia mampu dan ulet, rajin  turun ke rakyat, ternyata bisa sukses. Nurut nyong politisi kudu punya niat baik dan jangan punya niat jahat.

 Apakah hasrat mengurusi kepentingan rakyat sesungguhnya adalah panggilan jiwa yang sudah melekat pada watak manusia sejak lahir? Ataukah sebuah karakter yang harus terus-menerus dirawat dan diteguhkan sepanjang waktu?

 Ngurus kepentingan rakyat itu kan cocok dengan sifat manusia yg tdk bisa hidup sendiri. Kudu tolong-menolong. Yang cukup nolong yang kurang. Manusia normal pasti senang kalau bisa bantu sesamanya. Nurut nyong politik ya kelanjutan dari itu. Tapi sifat seperti itu lebih baik dirawat dan dipupuk. Kan kadang-kadang manusia itu lupa. Kalau dirawat dan dipupuk, biasanya lebih baik.

 Sebagai politisi, Anda tentu perlu dana cukup besar untuk membiayai kegiatan politik Anda. Kalau boleh tau, dalam satu bulan berapa besar dana yang Anda alokasikan untuk biaya kegiatan politik? Yang terbanyak untuk kegiatan apa? Apakah biaya tersebut sepenuhnya dari dana pribadi?

 Ya dana pribadilah. Namanya suka dan ingin belajar ya rapopo ada biayanya. Anggap seperti biaya sekolah dan biaya sosial gitu saja. Jumlahnya gak tentulah. Dan itu rahasia perusahaan hehehe. Yang penting nyong sudah tahu ukurannya yang pas.

 Kata orang, politik itu kejam. Sebagian orang bilang politik itu kotor. Kata John F Kennedy, “Jika politik itu kotor, maka puisi yang membersihkanya." Bagaimana Anda menyikapi apa kata orang tentang politik tersebut?

 Ya memang kadang kita ketemu peristiwa yang kejam dalam politik. Saling makan saling menerkam. Untuk bisa naik posisi ada yang jegal dan bahkan mematikan karier orang lain. Untuk naikkan saudaranya kadang rela singkirkan temannya. Untuk siapkan anaknya kadang tega gusur kadernya sendiri. Gitu-gitulah pokoknya. Nurut nyong itu tidak sehat. Itu terlalu ambisius dan banyak korbannya. Makanya jiwa halus politisi kudu dirawat juga dengn berkesenian. Biar gak kejam seperti macan. Itu Mas Anas contoh korban ambisi dari orang-orang yang zalim. Contoh lain juga banyak kok. ***

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *