TRIDIANTO: “Nyong Sudah Lama Hidup Menduda”

TRIDIANTO: “Nyong Sudah Lama Hidup Menduda”

Di masa masih jadi Ketua DPC Cilacap Partai Demokrat, Tridianto dikenal dikelilingi perempuan cantik. Bahkan ketika memberikan kesaksian untuk sahabatnya, Anas Urbaningrum,  Tridianto mendatangi gedung KPK dengan mengendarai Mobil mewah dan ditemani tiga perempuan cantik.
Seiring waktu yang berlalu, penampilan Tridianto yang sering mengundang kontroversi itu berangsur surut. Setelah dikabarkan berpisah dengan istrinya, Tridianto tak lagi gemar tampil bersama perempuan cantik. Meski masih tetap bicara blak-blakan dan apa apa adanya, Wasekjen Hanura yang kini hidup menduda itu tampak menikmati perannya sebagai single-parent.
Berikut petikan wawancara dengan ayah empat anak yang seminggu sekali harus bolak-balik Jakarta-Purwokerto demi menjalankan kewajiban dan tanggungjawab sebagai pengurus partai, pengusaha dan kepala keluarga.
Apakah benar sekarang ini Mas Tri hidup menduda? Sejak kapan? Kalau boleh tau, kenapa dan apa yang membuat Anda memilih hidup menduda?
 Pancen bener nyong lagi menduda. Aslinya sih nyong gak ada rencana menduda. Tapi faktanya sudah beberapa tahun ini nyong jadi duren, duda keren. Ya sudah dijalani saja dulu. Sebabnya ya jelas karena nyong pisah dengan istri hehehe. Detilnya gak usah nyong ceritakan. Itu rahasia dapurlah.

Kalau benar menduda, sekarang ink Anda tinggal dengan anak atau siapa? Siapa dan berapa usia anak yang tinggal bersama Anda?
Sekarang nyong fokus membesarkan anak-anak. Nyong ingin anak-anak bisa sekolah tinggi dan lebih baik dari nyong. Kan katanya kudu perbaikan keturunan. Anaknya nyong yang pertama sudah mahasiswi di Purwokerto. Yang paling kecil masih SD. Ada duq anak yang tinggal sama nyong. Ada dua anak yang tinggal sama ibunya. Tapi komunikasi kami baik dan lancar. Anak-anak yang tinggal sama ibunya sering ke rumah nyong. Misalnya habis pulang sekolah anak-anak ke rumah. Kan jaraknya dekat saja. Pokoknya gak terputuslah. Kalau nyong lagi di luar kota selalu telponan. Kadang nyong yang telepon, kadang anak-anak yang telepon. Nyong dekat sama anak-anak semua.

Bagaimana rasanya harus mengurus anak? Merasa lebih dekat, merasa terbebani, atau lebih memahami betapa berat mengurus anak dan rumah tangga?
 Ya ngurus anak itu kan kewajiban. Kan anak titipan dari Gusti Allah. Ya kudu diurus baik+baik. Amanah kan gak boleh kita lari. Kudu wani tanggung jawab. Yang nyong syukuri anak-anak semua dekat sama nyong. Gak ada yang jauh. Gak ada yang terputus. Nyong dekat banget sama anak-anak. Ngurus anak itu ya memang berat. Apalagi jaman sekarang. Tapi itulah kebahagiaan sebagai orang tua.

Apakah hubungan Anda dengan ibunya anak-anak tetap baik? Apakah hubungan anak Anda dengan ibunya juga berjalan dengan baik?
Hubungan dengan ibunya anak-anak tetap baik. Kudu tetap dijaga meskipun sudah cerai. Kan pernah jadi istrinya nyong. Pernah bersama berjuang. Kan ada yang manis-mania yang bisa dikenang. Yang gak manis ya sudahlah gak usah diingat-ingat terus. Kan katanya kita harus bisa move on. Ya sudah nyong kudu bisa move on. Lihat ke depan saja. Nyong juga minta kepada ibunya dan juga anak-anak untuk tetap baik hubungannya. Kan gak ada mantan ibu, mantan bapak, mantan anak. Mantan istri, mantan suami ya memang ada. Pokoknya nyong ingin yang sudah terjadi ya sudahlah. Hubungan kudu tetap dijaga baik.

Setelah mengalami dan melewati suka duka pernikahan, apakah Anda menjadi lebih memahami makna perkawinan? Adakah hal-hal yang yang paling berkesan dan membuat Anda merasa lebih bijak dalam menjalani hidup ini?
Kan dulu ada nasihat perkawinan yg bilang rumah tangga itu seperti  kapal di lautan luas. Ada ombak dan gelombang kudu dilewati berdua. Kudu kompak. Ya Alhamdulillah nyong sudah bisa lewati dan kapal sudah berlabuh di pelabuhan Cilacap. Tapi ketika berlayar lagi menuju pelabuhan lain, ternyata gelombangnya besar. Sementara kapal gagal berlayar. Ya sudah nyong berhenti dulu. Ini lagi cari ilmu berlayar yang lebih hebat. Biar nanti kalau misalnya berlayar lagi bisa melewati ombak dan gelombang besar. Nurut nyong jatuh bangun itu biasa. Termasuk urusan keluarga. Nyong gak mau jatuh. Tapi ternyata jatuh. Ya sudah nyong terima. Tapi nyong bangun lagi. Nyong belajar lagi. Hikmah terbesar nurut nyong itu ya kudu ikhlas menerima kekurangan masing-masing. Gak boleh egois. Kira-kira gitulah. Doakan saja nanti nyong bisa berlayar lagi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *