ORANG JAWA NAIK KE GUA HIRA

ORANG JAWA NAIK KE GUA HIRA

Budayawan Danarto, Mas Dan, wafat di Jakarta pada tanggal 10 April 2018, dalam usia 77 tahun. Berikut kenangan ringan ‘jalan bareng’ Mas Dan, sebagaimana pernah dimuat dalam majalah femina 1994, dan buku “Orang Jawa Naik Haji” (edisi revisi, 1997) karya Almarhum.

“Heryus, apa mungkin saya ke puncak Jabal Nur dan masuk ke Gua Hira?” ucap Mas Dan usai kami shalat Subuh dan jalan balik ke pemondokan, sekitar 400 meter dari Masjidil Haram – Mekah, awal Desember 1994.

“Insyaallah bisa, Mas. Asalkan kita punya niat kuat, sehat, siap bekal, mau ikut aturan, dan…kaki mampu mengayun langkah demi langkah,” jawab saya, sembari mengungkap sedikit  teori dasar mendaki gunung.

Saya kenal Mas Dan tahun 1978, diperkenalkan oleh almarhum Ags Arya Dipayana  atau Aji (dramawan, penyair, cerpenis, novelis, pemusik), redaktur tamu di Majalah Zaman di mana Mas Dan (bareng Mas Putu Wijaya, Mas Riantiarno, Mas Jim Supangkat) tampil dalam jajaran redaksi. Rasanya dari alm Aji pula Mas Dan tahu bahwa saya penyuka outdoor activityyang antara lain mendaki gunung. Barangkali itu pula sebabnya bila minatnya untuk bisa ziarah ke Gua Hira di pucuk Jabal Nur atau ‘Bukit Cahaya’ justru diungkap kepada saya, bukan ke teman-teman seperjalanan umrah lainnya.

Saat itu, kebetulan saja, kami berada dalam satu kafilah umroh Indonesia. Kami sama diundang Yayasan Perjalanan Haji & Umrah Hidayatullah yang (saat itu) berkantor di Jalan Cipinang Cempedak I, Polonia, Jatinegara, Jakarta Timur. Beberapa jamaah yang diundang kebetulan sudah saya kenal, antara lain: Penyair dan wartawan Republika Ahmadun Yosi Herfanda, Ira Nasution – Majalah Kartini, Isson Khairul – Majalah Gadis, Mohammad Badri yang kameraman Televisi Pendidikan Indonesia, dan tentu…Mas Dan yang diundang sebagai penulis buku Orang Jawa Naik Haji.

“…dulu saat berhaji, sudah amat ingin saya ziarah ke Gua Hira. Tapi ndak kesampaian, karena ndak ada teman yang siap naik  gunung. Jadi, senang sekali bila sekarang Heryus berkenan mengajak saya mendaki ke Gua Hira,” ucap Mas Dan, lagi.

Sungguh sebuah kehormatan bagi saya bila bisa mendaki Jabal Nur bareng seniman lukis dan menulis kumpulan cerpen (Godlob, Asmaradara, Adam-Ma’rifat, Berhala) dan drama (“Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek” dan “Bel Geduweh Beh”) ini. Sejujurnya, saya juga amat ingin bisa mendaki Jabal Nur dan masuk Gua Hira. Apalagi itu semua kini ada di depan mata,  cuma sekitar 5 Km di sebelah timur Masjidil Haram. Kapan lagi bisa berkesempatan datang ke Mekah?

Tapi Gua Hira  tidak merupakan bagian dari situs yang dianjurkan untuk dikunjungi jamaah haji dan umrah. Dalam sejarah Islam, juga tak tercatat bahwa  setelah menerima wahyu pertama Al-Qur’an (Surat Al-Alaq ayat 1 – 5) lewat perantaraan malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW kembali berkunjung, atau mengajurkan para sahabat untuk datang ke Gua Hira. Tak pernah. Tak heran bila di kini pun, dalam rute perjalanan haji dan umrah pun, Gua Hira tak termasuk dalam daftar kunjungan wisata ziarah,  sebagaimana anjuran berziarah ke Jabal Uhud di Madinah atau ziarah ke Jabal Rahmah di Arafah, misalnya.

Namun begitu, sebagai lokasi bersejarah, sebagai tempat pertama turunnya ayat suci Al-Quran, Gua Hira punya pesona tersendiri bagi umumnya umat Islam. Dari masa ke masa ada saja orang atau kelompok orang diam-diam datang ’ziarah’ ke Gua Hira.  Saya juga penasaran ingin singgah ke Gua Hira. Sama sekali bukan untuk mengkultuskan goa tersebut. Melainkan sekadar napak tilas jejak Rasulullah Muhammad saw sebelum masa kenabian.

“Apa sih kelebihan goa itu hingga Nabi memilih jadi tepat nyepi dari ’keriuhan’ Mekah saat  itu? Bagaimana susah-payahnya Ibu Hadijah, istri Nabi, naik-turun Jabbal Nur secara berkala, membawa buyung air Zamzam dan kurma buat suami tercinta yang tengah tafakur di gua itu…,” ungkap Mas Dan seolah-olah menyuarakan hati saya sendiri. Mimpi yang perlu diwujudkan dalam tindak nyata: Yuuuk…! Mendaki Jabal Nur semumpung sehat dan Allah swt berkenan mengundang datang ke Mekah.

Ada tiga teman yang juga ingin ikut naik, yakni:  Ahmadun, Isson, dan Badri yang mahir berkomunikasi dalam Bahasa Arab. Jadilah kami berlima bersiap diri. “Masing-masing  minimal bawa akua 2 botol, dan harus dihemat. Sebotol untuk minum saat pendakian, yang sebotol sebagai stock minum saat turun balik,” ‘perintah’ saya yang Alhamdulillah diamini semua peserta.

“Serahkan pada ahlinya, saya nunut apa kata Heryus…,” ucap Mas Dan, bijak. Selain tas identitas jamaah umrah (berisi passport dll) yang wajib kita sandang kemanapun melangkah, Mas Dan membawa tas cangklong lain yang lumayan besar dari kain, buat tempat 2 botol akua besar, sekantung kurma ukari plus roti,  selembar kafiyeh multi fungsi: buat kerudung agar kepala tak langsung terpapar terik matahari, dan untuk dibentangkan sebagai sajadah bila hendak solat.

Isi tas paling berat mungkin punya Badri, karena ia membawa kamera video kecil milik kantornya untuk merekam Kota Mekah dari ketinggian Jabal Nur, sebagaimana 14 abad silam  Rasulullah saw memandangi situasi Kota Mekah saat nyepi di Gua Hira. Saat itu belum jamannya kamera handphone, dan askar Arab Saudi masih ‘sensitif’ bila melihat jamaah yang menenteng kamera. Untuk menghindari kemungkinan penyitaan oleh askar saat di jalan, kamera milik Badri pun kami preteli jadi beberapa bagian. Lensa dan sebagian bodinya disimpan Bandri, bagian bodi lainnya dibawa Isson, dan baterenya aman terbungkus kaus kaki di dalam tas saya, ha…ha…ha…!

Sebagaimana saran saya, Mas Dan sudah mengganti sandal jepitnya dengan sandal Spartan/sandal gunung, yang dibelinya di Pasar Seng. Juga yang lainnya, kecuali saya yang (kebetulan membawa) bersepatu gunung beralas karet dengan tumit tertutup. Untuk pakaian, saya serahkan pada masing-masing pribadi. Yang penting nyaman dikenakan untuk berjalan mendaki jarak jauh,  dan sedapat mungkin menutup tubuh agar kulit tak gosong tersengat panas. Saya dan beberapa teman malah bertopi pet. Oya, saya juga membawa pisau lipat kecil, dan sebatang lampu senter

Kami bertaksi, sekitar 10 menit  dari hotel ke sebuah kampung kecil dan sepi di kaki Jabal Nur (Agustus 2017, kampung itu sudah berobah jadi pusat dagang yang amat ramai). Ongkosnya 60 Riyal. Harusnya kami patungan, masing-masing 12 Riyal. Tapi semuanya dibayar Mas Dan, juga baliknya, hihihi…!

Saat itu awal Desember, menjelang musim dingin. Suhu udara Mekah tak begitu panas, dan sedang banyak angin. Ribuan belalang gurun seukuran jempol kaki terbawa angina hingga ke Kota Makah, berjatuhan di seputar halaman Masjidil Haram, hingga jamaah yang tak kebagian shalat (Jumat) di dalam masjid dan menggelar sajadah di halaman dengan puluhan belalang hidup dibawah sajadah. Anehnya, taka da belalang jatuh di  maataf, pelataran thawaf yang melingkari Ka’bah. Apa karena banyaknya burung  elang dan rajawali yang ’thawaf’, berputar-putar di atas Ka’bah? Entahlah.

Namun, walau udara tak begitu panas, saya tetap tak berani  meng-guide (maaf) para pemula mendaki di siang bolong. Apalagi Jabal Nur yang walau tidak terlalu tinggi, namun secara kasat mata bisa ditengarai: itu gunung batu tanpa pepohonan sama sekali. Bukan seperti gunung-gunung di Indonesia yang betapapun tinggi dan jauh jarak tempuhnya, tapi nyaris selalu diteduhi hutan rimba atau minimal hijau sejauh mata memandang. Jabbal Nur adalah bukit batu kering kerontang. Paparan sinar matahari yang terus-menerus, dan lelahnya mendaki, bisa cepat bikin tubuh dehidrasi, kehilangan cairan. Sementara suhu udara sekitar yang mencapai 35* Celsius, nyaris tak pernah bikin tubuh berkeringat. Karena itu baru selepas Asyar, saat matahari mulai redup, kami baru mulai beraksi, melangkah setapak demi setapak mendaki ‘jalan tikus’  di antara tonjolan batu-batu dan tebing menganga, mendaki Jabbal Nur, Bukit Cahaya.

24 tahun lalu itu, sekali lagi, Jabal Nur masih amat sangat sepi. Betapapun ada saja peziarah yang datang mendaki, pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang berfaham Wahabi dan sangat menentang perilaku bid’ah (mengangkut hal atau ‘ritual’ yang tidak dilakukan Rasulullah saw) tetap membiarkan ‘jalan tikus’ yang dirintis Muhammad saw 14 abad silam itu, sebagaimana adanya: setapak berupa tonjolan batu-batu yang kadang memilir tebing dengan jurang menganga di bagian lainnya.

Lokasi start tempat taksi kami berhenti, di simpang jalan aspal, masih berupa kampung kecil dengan beberapa rumah tembok beratap seng, yang pintu-pintunya tertutup. Seperti predeksi saya, tak ada penjual makanan dan minuman di situ. Cuma ada beberapa anak laki-laki yang menghampiri kami, menawarkan tongkat dari batang batang pohon ‘siwak’. Saya membelinya sebatang seharga 5 Riyal, sambal berpromosi: “Tongkat perluuntuk  jalan jauh dan mendaki, karena bisa lebih menyetabilkan kaki saat melangkah, juga bisa menjadi tumpuan tubuh saat jalan menurun atau saat benhenti, sementara di sekitar taka da benda statik yang bisa kita jadikan pegangan,” kata saya, lagi-lagi berteori dasar mendaki gunung, hihihi…!

Bisajadi karena terpengaruh omongan saya, Mas Dan dan seorang teman lainnya ikut membeli tongkat yang memang berguna untuk mengatur tiap langkah. Butuh konsentrasi penuh untuk melangkah setapak-demi setapak. Dan saya mencoba selalu di belakang untuk bisa melihat langkah teman-teman, minimal selalu berada di sisi ‘berbahaya’ di samping Mas Dan.

Tak ada pendaki lain selain kami. Namun di beberapa sudut tebing yang agak teduh, selalu tampak (maaf) peminta-minta, laki-laki ataupun perempuan yamh umumnya berasal dari Bangladesh, Pakistan dan Senegal. O, ternyata ada juga  wanita-wanita bercadar nyaris menutupi wajah, yang ternyata fasih berbahasa Jawa. Para TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang terusir kah mereka? Entah. Yang pasti, banyaknya peminta-minta sepanjang jalur jadi indikasi, banyak orang mendaki Jabal Nur. Ada calon pemberi sedekah, ada penadah tangan.

Cukup repot menuju Gua Hira, karena kami benar-benar mendaki di jalur sempit di antara batu-batu alam. Kudu banyak istirahat dan neguk air. Baru sekitar 2 jam mendaki, menjelang Magrib kami temukan celah sempit yang jadi pintu masuk Gua Hira di pucuk Jabbal Nur. Ruang gua yang tak begitu besar, tapi cukup untuk kami berlima berdiri atau duduk-duduk di tonjolan batu di dalamnya.

Ada pintu lain lebih besar di bangian sebelah dalam, berbatas dinding jurang, membawa pandangan langsung ke Kota Mekah jauh di bagian bawahnya. Badri segera meminta elemen-elemen kameranya yang dititip di tas-tas kami, merakitnya kembali dan sebentar saja ia sudah asyik merekam pemandangan spektakular Kota Mekah yang mengampar di bagian bawah.

Ada momen menarik, yang barangkali file-nya cuma dimiliki Mohamad Badri, yang saat itu  kameraman TPI, yakni saat terdengar azan Magrib berkumandang. Bermula dari Masjidil Haram, lalu gema azan itu (seperti memantul) disambut suara azan dari masjid-masjid  lain di sejujur Mekah. Berbarengan dengan suara azan itu, lampu-lampu Kota Mekah pun menyala. Juga dimuai dari Masjidil Haram, bependar-pendar disambung pendar-pendar lampu lainnya di sekujur Mekah. “ Nggak kebayang, bagaimana mekah di zaman Nabi,  ya…?” ucap Mas Dan seraya mengangkat kedua tangannya ke atas: berdoa buat kita semua.

Kami segera bertayamum, dengan menempelkan tangan ke dinding keras rongga Gua Hira. Menggelar selendang dan kafiyeh di lantai gua yang sempit, berpasir dan nyaris tanpa debu (tanah) sedikitpun. Mas Danarto menjadi imam, kami shalat jama qashar takdim: Magrib (3 takaat) dan Isya (2 rakaat) dengan mengumandangkan iqamat di antara dua shalat itu. Khusuk, sampai tak terasa ada leleh bening hangat menitik dari sudut mata. Subhannallah…! Subhannallah…! Subhanallah…!

(,,,bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *