Cerita untuk Amien Rais APA PERLUNYA “MERENDAHKAN” SETAN? Harry Tjahjono

Cerita untuk Amien Rais APA PERLUNYA “MERENDAHKAN” SETAN? Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

Senja pamitan. Langit tembaga menggelap. Dengan perut lapar dan kerongkongan garing saya mengayun langkah ke sebuah warung di tikungan pertigaan itu. Kebetulan tidak ada pembeli, sehingga pesanan teh tawar hangat dan sepiring nasi sayur, tempe, telor dicabein, segera terhidang.

Ketika saya sedang enak bersantap, datang seorang laki-laki berwajah sangar, memesan menu yang sama dan segera melahapnya. Usai makan, saya memesan kopi dan mencomot sebatang rokok ketengan yang disediakan di toples berikut koreknya. Nikmat benar rasanya. Usai makan, laki-laki itu juga pesan kopi, mencomot sebatang rokok dan melengkapi kenikmatan hidupnya.

“Saya ini bingung, heran, juga jengkel, kenapa ada orang yang mengaku pintar tapi kok ngomong soal dikotomi Partai Setan dan Partai Tuhan," katanya ujug-ujug membuka percakapan.

“Pasti ada alasannya. Ada argumentasinya," sahut saya sekadar bersopan-santun.

“Orang yang mengaku pintar, apalagi politisi, pasti punya banyak alasan, pasti mahir meretorika argumentasi. Saya tidak meragukan itu. Saya hanya heran dan jengkel, kenapa sih menyamakan partai politik dengan setan? Apa perlunya sih 'merendahkan' setan menjadi sekadar partai? Setan itu bagaimanapun adalah satu-satunya makhluk yang berani menolak perintah Tuhan untuk bersujud pada Adam. Konsekuen dikutuk masuk neraka demi keberaniannya menolak sujud pada Adam. Itu jauh tidak sebanding dengan partai yang bersujud pada Ketumnya, menyembah Ketua Dewan Pembinanya, dan secara pengecut gemar mengkambing-hitamkan kesalahan dan kekalahannya pada pihak lain. Jadi apa perlunya 'merendahkan' setan sebagai sekadar partai?" cerocosnya panjang lebar.

“Mungkin hanya untuk membandingkan bahwa Partai Setan itu lebih buruk dari Partai Tuhan," kata saya gelisah, ngeri terlibat percakapan yang bisa membuat saya dipolisikan. Sebab saya bukan partisan partai atau ormas yang mau mem-backing ulah saya. Juga bukan juru filsafat yang boleh bicara kitab suci adalah fiksi dan lain sebagainya. Saya sungguh gelisah. Tapi laki-laki berwajah sangar itu segera menyambar ucapan saya.

“Itu dia konyolnya! Merendahkan setan sebagai partai saja sudah sesat nalar, apalagi memberhalakan Tuhan sebagai partai, dosa apa gerangan yang akan mengazabnya? Memberhalakan Tuhan sebagai benda saja dosa, lalu bagaimana jika memberhalakan Tuhan sebagai partai?" katanya sangar.

Saya berdiri, bertanya pada pemilik warung berapa yang harus saya bayar. Semuanya, termasuk sebatang rokok, Rp18 ribu. Saya merogoh kantong baju dan kantong celana samping, depan, belakang, dan terkejut lantaran dompet saya tiada. Mungkin terjatuh atau ketinggalan di rumah. Keringat dingin membasah. Saya panik.

“Kenapa, Brother? Dompet ketinggalan? Santai saja. Boleh saya traktir, kan?" kata laki-laki sangar itu seraya mengulurkan selembar uang seratus ribu kepada pemilik warung dan berpesan, “Kembaliannya biar dipakai ongkos pulang kawan saya."

Saya tidak sempat mengucapkan terima kasih karena laki-laki berwajah sangar itu sudah berlalu pergi dan lenyap dalam gelap. Saya berdiri terkesima, mensyukuri telah ditolong seseorang yang baik dan dermawan. Saya bahkan merasa mendapatkan mukjizat. Tapi, apa perlunya saya “meninggikan" laki-laki sangar itu sebagai “dewa penolong" atau “malaikat penyelamat"? Sebab, satunya kata dengan tindakan seorang laki-laki sangar jauh lebih bermanfaat dibanding jargon atau retorika seribu politisi gadungan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *