Manusia Gembira SALING MENDUKUNG dan SALING MENGUATKAN Harry Tjahjono

Manusia Gembira SALING MENDUKUNG dan SALING MENGUATKAN Harry Tjahjono

Berpikir besar, hemat saya, tidak selalu harus menyangkut hal-hal yang besar juga. Tentang demokrasi, ideologi, politik atau pilkada, misalnya. Selain bikin pusing, hal-hal besar tersebut di atas biasanya sudah dipikirkan banyak orang dan hasilnya seringkali hanya perdebatan tidak berkesudahan.

Berpikir besar, hemat saya, bisa berangkat dari hal-hal sepele, sehari-hari, sesuatu yang kecil dan bukan mustahil akan membengkak jadi besar. Tentang persahabatan atau pertemanan, misalnya. Di zaman now, ketika internet membuat kita bisa menjalin pertemanan global, maka persahabatan tidak lagi hanya sebatas dengan tetangga, kawan sekolah, sedesa, senegara, seusia, seiman, dan atau setara strata sosial-ekonomi-pendidikan-budaya. Dengan kata lain, medsos telah membukakan pintu kesempatan bagi kita untuk berkenalan, berteman dan bersahabat dengan siapa saja. Persoalannya adalah apa yang kita pahami dan bagaimana kita menghadapi serta “mengelola" realitas tersebut.

Selama hampir tiga minggu safari ngopi di Madiun, saya banyak bertanya dan berbincang dengan seniman, pekerja budaya, temen pegiat medsos yang rajin hadir di warung kopi penyedia wifi gratis. Sambil kongkow, sesekali saya ikut menyimak FB dan terkesan dengan postingan status serta komen yang menarik, lucu, unik, “keras" dst. Asyik dan menyenangkan.

Saya juga terkesan dengan postingan status teman-teman FB yang “mempromosikan" usahanya, potensinya, bakatnya, aktivitasnya dan pemikirannya di laman akunnya masing-masing. Bahkan tidak jarang upaya berpromosinya itu tanpa juntrungan nyelonong di komen status saya dan tidak nyambung dengan apa yang saya posting.

“Realitas FB" tersebut, hemat saya, menjelaskan dua hal: pertama banyak teman-teman FB yang punya usaha, bakat, potensi, aktivitas, pemikiran dst. Kedua, ada kebutuhan dari teman-teman tersebut untuk berpromosi serta menyebar-luaskan usaha, bakat, potensi, aktivitas, pemikirannya ke khalayak ramai–utamanya sesama pengguna FB.

Kedua hal itu lantas jadi bahan obrolan sambil ngopi dan menikmati wifi gratis, sampai kemudian muncul ide sederhana: kenapa pertemanan dan persahabatan kita dengan sesama pengguna FB tidak kita “kelola" dengan spirit saling mendukung dan saling menguatkan. Misalnya dengan cara menulis dan atau menyebar-luaskan usaha, bakat, potensi, pemikiran, aktivitas teman kita yang kita anggap layak untuk kita dukung dan kita kuatkan. Cukup sekali sehari, atau dua hari sehari saja, misalnya. Dan selebihnya kita bisa memposting hal-hal lain yang selama ini kita lakukan. Jika saling mendukung dan saling menguatkan itu bisa menjadi spirit bermedsos-ria, hemat saya pertemanan dan perhabatan kita di dunia maya ini akan lebih bermakna, setidaknya lebih menggembirakan.

Alhamdulillah, beberapa teman tertarik dan tertular spirit saling mendukung dan saling menguatkan. Itu sudah kita muiai dengan secara bersama dan bersinergi menulis dan menyebar-luaskan kegiatan Mas Herutomo membangun destinasi Dungus Forest Park Madiun, bakat seni Yoyork dan Hendry Putra Pratama, aktivitas budaya Akung Bondet dan menu kuliner “inuk tinun" Gurame Tim ala chef Ukki Cahyajati yang owner Omah Slamet. Tidak hanya di FB, tapi juga di web, blog dan twitter.

Memang baru langkah awal. Tapi sudah dimulai. Memang bukan gagasan besar. Tapi paling tidak gagasan itu bisa membuat kita gembira. Salam manusia gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *