POLITIK KAOS dan KARAKTER CHAOS Harry Tjahjono

POLITIK KAOS dan KARAKTER CHAOS Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

Belakangan ini ramai soal produk politik kaos #2019GantiPresiden. Ramai diperbincangkan, ramai diperjual-belikan dan ramai diparodikan. Politik kaos dan kaos politik hemat saya serupa tapi tak sama. Politik kaos lebih pada menggunakan media kaos untuk tujuan politik tertentu. Sedangkan kaos politik semata menggunakan kaos untuk promosi partai politik tertentu. Politik kaos dan kaos politik, kita tahu, sebenarnya bukan hal yang baru.

Kaos politik, yaitu kaos berlogo atau bertulisan partai politik tertentu, lazimnya dibagikan secara gratis falam jumlah besar dan seringkali kualitasnya kurang baik. Meskipun dibagikan gratis, belum tentu semua yang menerima mau memakainya. Maka andaikata kaos politik dijperual-belikan juga mustahil bisa laris, terkecuali dibeli sejumlah pendukung fanatik partai itu sendiri. Selain itu kaos politik biasanya marak beredar lima tahun sekali dalam rangka Pilkada, Pileg dan Pilpres. Sebuah rutinitas gratisan yang menurut saya cenderung “muspra" alias kurang manfaat.

Sedangkan politik kaos Save KPK, misalnya, ramai dibeli dan dipakai khalayak yang mendukung KPK. Orang tergerak membeli dan memakainya lantaran merasa bangga karena termasuk dalam ‘barisan" antikorupsi. Orang tergerak membayar dan memakai kaos Save KPK karena publik menganggap korupsi sebagai “musuh bersama". Oleh karena itu pula, hemat saya, politik kaos Save KPK tidak diparodi negatif menjadi Save Istri atau Save Koruptor, misalnya. Hal serupa juga terjadi pada politik kaos Turn Back Crime, oleh karena kriminalitas memang “musuh bersama" masyarakat.

Akan halnya politik kaos #2019GantiPresiden, kita tahu, secara eksplisit terkait dengan Pilpres 2019. Digagas dan diinisiasi Partai Keadilan Sosial (PKS), politik kaos tersebut serta merta disambut hangat lawan politik Presiden Jokowi. Digerakkan oleh organ partai dan dipopularkan secara massif melalui medsos, membuat politik kaos #2019GantiPrediden menjadi ramai dibicarakan, menciptakan peluang bisnis bagi penjual kaos, dan pada level tertentu berhasil menciptakan persepsi bahwa masyarakat menghendaki presiden baru.

Tapi, politik kaos #2019GantiPresiden pada akhirnya hanya akan ramai di kalangan lawan politik Jokowi dan tidak akan menjadi semacam gerakan “people power" seperti yang diharapkan penggagasnya. Publik tidak akan serta merta tergerak untuk menyambut politik kaos tersebut, terkecuali mereka yang memang digerakkan untuk memenangi Pilpres 2019. Tergerak dan digerakkan tentu dua hal berbeda.

Sebagai “gimmick" komunikasi politik, #2019GantiPresiden memang cukup kreatif  dan menghibur. Tapi, keterbatasan dan atau “kegagalan" polltik kaos #2019GantiPresiden bisa segera terbaca terutama disebabkan Presiden Jokowi bukan dianggap sebagai “musuh bersama" rakyat Indonesia. Untuk menjadikan Presiden Jokowi sebagai “musuh bersama" rakyat Indonesia, tentu tidak cukup hanya menggerakkan politik kaos. Dan resistensi terhadap politik kaos tersebut bisa dideteksi pada munculnya serangkaian parodi #2019GantiKulkas, Ganti Pacar, Ganti Kolor dan seterusnya.

Politik kaos dan kaos politik, hemat saya, juga terkait dengan karakter chaos — jati diri yang galau, kepribadian yang gamang, identitas yang bimbang dengan eksistensi individualnya sehingga membutuhkan “kekuatan kelompok" yang berkostum sejenis untuk mengekspresikan kehadirannya. Sudah menjadi kelaziman sejarah bahwa suatu kelompok, komunitas atau sekadar kerumunan massa cenderung menegaskan identitasnya dengan memakai kostum atau seragam yang mudah dikenali, yang membedakan mereka dari penampilan masyarakat umum.

Tampil beda, different, lazimnya adalah hasrat atau bahkan kecenderungan naluriah manusia. Tapi, hasrat untuk berkerumun dalam kelompok yang tampil beda tentu tidak sama kadarnya dengan hasrat seseorang yang berkarakter hebat,  yang tampil beda bukan karena ingin membangun reputasi  melainkan eksistensinya memang otentik, khas, mandiri dan “tidak umum". Biasanya seseoramg tersebut adalah genius di bidangnya atau tokoh besar dalam sejarah kebudayaan manusia. Maka demikianlah penampilam Einstein yang rambutnya awut-awutan, Bung Karno dengan kemeja bersaku empat seraya mengepit tongkat komando, Jenderal Sudirman yang berkubah, Pangeran Diponegoro yang bersorban putih, kumis Salvador Dali/Hitler, busana Elvis Presley/Michael Jackson dan silakan temukan sendiri karakter otentik lain yang tampil beda.

Gagasan besar dan sejarah yang luar biasa, sayangnya, belum pernah “tercipta" dari dan oleh kerumunan karakter chaos yang berseragam kaos politik atau kostum yang mencirikan kebedaan mereka dengan masyarakat umum. Pemikiran yang hebat, puncak-puncak peradaban yang menandai zaman, selalu saja dilahirkan karakter-karakter yang otentik dan bukan sekadar tampil beda.

Selain itu, karakter otentik lazimnya “bergulat dengan nalar", sedangkan karakter chaos cenderung “berjudi dengan nasib". Sayangnya, ibarat dalam dunia judi togel, karakter chaos tidak lebih dari sekadar “angka ikut". Ia ada di setiap nomor undian yang keluar, namun hanya menjadi pelengkap dari sejumlah bilangan yang memenangi hadiah. Sehingga sekerumunan karakter chaos sekalipun, pada akhirnya hanya akan kebagian remah-remah hadiah, itupun kalau nomor togel yang dipilih membuahkan kemenangan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *