Sang Pujangga “Surealisme” SELAMAT JALAN MAS DANARTO…. Harry Tjahjono

Sang Pujangga “Surealisme” SELAMAT JALAN MAS DANARTO…. Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

Ketika saya terjaga pukul 04.00 pagi ini, saya langsung terpapar berita sedih. Mas Danarto, sastrawan legendaris, pelukis dan jurnalis, sahabat dan salah satu “guru’ saya, dikabarkan wafat dalam usia 77 tahun karena mengalami kecelakaan di daerah Ciputat, Jakarta Selatan.

Kemarin sore, ketika Butet Kertaredjasa mampir ke Madiun menemui saya, berita mengenai kecelakaan itu jadi perbincangan khusus kami berdua. Saya dan Butet, juga seniman yang mengenal Mas Danarto, tentu mencintai, menghormati dan terpukul mendengar berita duka itu.

Saya mengenal dan akrab dengan  Mas Dan sejak magang di Majalah Zaman,  majalah budaya yang pernah diterbitkan Majalah Berita TEMPO di awal 1980-an. Redaksinya diasuh “para dewa" sastra dan jurnalis saat itu, a.l. Putu Wijaya, Danarto, Riantiarno, Jim Supangkat dll. Juga tempat berekspresi penulis muda seperti Sena Gumira Ajidarma, Kemala Atmojo, (alm) Ags Arya Dwipayana, Radar Pancadahana dll.

Saya beruntung pernah nulis rutin dan magang sekitar tiga tahun di Zaman. Tuntutan redaksi sangat tinggi. Naskah yang disetor harus presklar. Kalo dianggap belum layak muat, harus ditulis ulang reporternya sendiri.

Sàya termasuk penulis pemula yang sering harus menulis ulang. Waktu redpelnya Mas Putu Wijaya, saya malah sering harus wawancara ulang, baca referensi di perpustakaan, dan observasi di lapangan yang membuat saya pernah nginep di kontrakan sekelompok tukang becak. Anehnya saya kok ya mau saja. Hasilnya, tulisan saya bisa lolos jadi laporan utama. Misalnya tentang sindikat pengemis Jakarta, mucikari yang mengadopsi dua balita, tentang becak, reog dll. Entah kenapa kebanyakan saya sering ditugasi reportase kehidupan rakyat kecil.

Zaman, bagi saya, ibarat laboratorium bahasa, pendidikan menulis secara spartan, sekaligus komunitas berkesenian yang egaliter dan menyenangkan. Sàya juga masih ingat, kecuali rapat atau makan, Mas Putu selalu pakai headphone, yang sering membuat saya takut mengganggu dan maju mundur setiap kali mau setor naskah.

Saya sungguh belajar banyak kepada Mas Danarto. Baik tentang teknik mengolah kata-kata,  sudut pandang penulisan, metafora, maupun melatih keliaran imajinasi. Saya takjub pada karya Mas Danarto semisal Godlob yang surealistik. Juga lukisan dan sketsa ilustratifnya yang kebanyakan berfigur wanita cantik yang “gaib  dan misterius".

Tentu saya masih ingat dan akan selalu teringat pelukis dan sastrawan “surealisme" yang “eksentrik" itu punya keasyikan khusus, yaitu rajin ngumpulin uang logam kembalian naik biskota. Satu saat saya pernah diajak Mas Danarto ke bank, sambil nenteng sekantung terigu uang logam untuk ditabung. Lumayan berat dan makan waktu cukup lama untuk dihitung oleh kasir bank…

Dan semalam Mas Danarto wafat.

Saya menuliskan kenangan dan perasaan kehilangan Mas Danarto dengan mata basah.

Selamat jalan, Mas Danarto….***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *