Setrum Politik LELUCON FADLI ZON Harry Tjahjono

Setrum Politik LELUCON FADLI ZON Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penghayat Humor

Saya tertawa. Bukan menertawakan viralnya tagihan listrik salah satu rumah milik Fadli Zon di Bumi Cimanggis Indah B1-09, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, yang konon dulu dihuni adiknya dan kini dijadikan “rumah kreatif” entah apa maksudnya. Saya tertawa karena ketika ditanya kenapa lalai membayar abonemen setrum sampai menunggak, sambil tertawa ia mengatakan jika dirinya sedang kekurangan uang. “Berarti kekurangan duit ya, ha-ha-ha. Biasanya dibayar rutin kok. Ya melalui saya, lah, masak duit orang lain. Berarti saya lagi bokek kali, ha-ha-ha," ujar Fadli Zon kepada TribunWow.com.

Saya tertawa dan ikut gembira karena pejabat setara Wakil Ketua DPR yang melalaikan kewajiban membayar abonemen setrum milik negara hanya tertawa ketika meteran listrtiknya disegel PLN dan viral. Saya tertawa dan gembira karena ada Wakil Ketua DPR yang punya beberapa rumah ternyata sambil tertawa mengaku kesulitan uang bahkan bokek sehingga salah satu rumahnya menunggak bayar listrik. Saya tertawa dan gembira karena di dunia ini ternyata bukan hanya saya belaka yang terkadang lalai bayar listrik karena bokek.

Selain itu, misalkan saya kader parpol oposisi, hal tersebut tentu ibarat mendapat amunisi untuk mengkritik pemerintah, bahkan menyalahkan Presiden, yang tidak becus memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Sebab bahkan seorang Wakil Ketua DPR saja sampai bokek dan nunggak listrik. Maka wajar jika Presiden harus bertanggung jawab atas “kebokekan" pejabat dan lain sebagainya dan seterusnya. Dengan argumentasi yang meyakinkan maupun asal kritikan saya menjadi sensasional.

Tapi soal mengaku kesulitan uang dan bokek, tentunya hanya lelucon Fadli Zon. Sebagai politisi yang kocak, apa boleh buat, kejenakaannya memang sering membuat banyak orang jadi gemes. Saya sendiri selalu merasa terhibur oleh statemen maupun kritikan Fadli Zon yang menurut kata orang “nyinyir”. Tapi, sebagai penghayat humor, saya mengapresiasi “kenyinyiran” tersebut semata sebagai lelucon Fadli Zon. Dengan demikian saya bisa tertawa dan gembira. Misalnya saja soal tunggakan listrik rumah kreatifnya itu yang secara kreatif disambungkan dengan politik sbb:

“Saya heran bagaimana tunggakan jadi viral. Itu menarik menurut saya, apakah memang PLN melakukan viralisasi terhadap orang menunggak atau apa, jangan sampai bagian dari sebuah operasi politik," kata Fadli di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 17 April 2018, seperti dikutip Merdeka.com.

Saya tertawa dan gembira oleh karena lelucon Fadli Zon ternyata bisa dikembangkan menjadi “setrum politik”. Padahal, lalau saja ‘rumah kreatif” Fadli Zon abonemen listriknya pakai token, saya jamin tunggakan rekeningnya tidak bakal jadi viral. Sebab, begitu token menipis, maka akan terdengar bunyi menguik cukup keras sebagai tanda token harus segera diisi. Bagi pelanggan token, bunyi menguik yang cukup keras itu selain menusuk kuping juga rada bikin malu. Di kampung tempat saya tinggal, pernah suatu ketika beberapa rumah kontrakan yang berderet di sebuah gang tokennya menipis. Maka secara  bersamaan terdengar bunyi koor menguik yang cukup bising seperti suara puluhan serangga “garengpung” sedang bernyanyi di musim kawin.

Lelucon Fadli Zon tampaknya memang sangat mungkin menjadi setrum politik, terutama jika media menuruti sarannya agar menyoal tarif listrik yang terus naik sehingga rakyat sering nunggak. Tapi, namanya lelucon, biasanya hanya membuat banyak orang tertawa. Kalaupun ada yang tidak tertawa, mungkin sedang sakit gigi atau memang tidak suka gembira. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *