Liburan Seru dengan Membuat Sendiri Kerajinan Perak di Kotagede

Liburan Seru dengan Membuat Sendiri Kerajinan Perak di Kotagede

Yogyakarta Kerajinan perak Kotagede dapat menjadi alternatif mengisi liburan di Yogyakarta. Wisatawan bisa memilih mengisi waktu dengan belajar membuat kerajinan perak di sini.

“Selama ini biasanya orang datang ke Kotagede untuk membeli aksesoris dari perak, tetapi sekarang bisa juga membuat sendiri kerajinan perak yang mereka inginkan," ujar Sekar Arum Asmara, Marketing Communication Corporate HS Silver dan Omah Dhuwur Restoran, Kamis (12/10/2017).

PT. HSWS yang menaungi HS Silver dan Omah Dhuwur meluncurkan program pembuatan perak yang terdiri dari beberapa paket, meliputi, paket Arjuna, Bima, Yudhistira, Nakula, Sadhewa, Sekarjagad, dan Sidomukti. Lama dan biaya pelatihan bervariasi, tergantung dari jenis paket yang dipilih.

Paket Arjuna, misalnya, mematok biaya mulai dari Rp 150.000 per orang untuk mengikuti pelatihan membuat kreasi perhiasan perak dengan motif sederhana pada cincin maupun liontin selama 90 sampai 120 menit. Biaya itu sudah termasuk sertifikat, modul, 3 sampai 4 gram perak atau tembaga, dan hasil kreasi perhiasan bisa dibawa pulang.

Paket Sekarjagad menawarkan pelatihan membuat kreasi perhiasan perak serta batik selama tiga hari. Setiap peserta dipatok biaya mulai dari Rp 1,45 juta dan mendapat tujuh gram perak atau tembaga, sehelai kain berukuran 35×115 sentimeter, modul, makan siang di Omah Dhuwur Resto, sertifikat, dan hasil kreasi bisa dibawa pulang. Untuk mengakses paket ini, peserta harus melakukan pemesanan tempat minimal tiga hari sebelum pelaksanaan.

“Sejumlah wisatawan sudah mengikuti pelatihan ini, tidak hanya domestik, melainkan juga mancanegara," kata Arum.

Selain untuk wisata kreasi, pelatihan pembuatan kerajinan perak juga bisa diikuti bagi orang-orang yang ingin bergerak di bidang kerajinan perak secara profesional.

Salah satu perajin perak Kotagede, Muji Slamet (47), memaparkan cara pembuatan kerajinan perak. Pertama kali adalah membuat rangka lalu diisi dengan benang perak.

“Untuk memperkuat dipatri kemudian baru dibentuk sesuai keinginan," tutur laki-laki yang sudah 10 tahun bekerja sebagai perajin perak ini.

Setelah itu, bahan separuh jadi itu direbus dengan air dan dipoles buah lerak. Perajin memakai lerak yang biasa digunakan sebagai bahan untuk mencuci batik karena tidak mengandung bahan kimia.

“Perak Kotagede biasanya membutuhkan waktu satu hari untuk sampai ke proses finishing," kata Muji.

Sumber Liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *