Membangun “Dinasti Petruk”di Tengah Gagalnya”PRIYAYI” Donny Aries

Membangun “Dinasti Petruk”di Tengah Gagalnya”PRIYAYI” Donny Aries

Donny Aries
Penulis

Balik pada satir pewayangan gaess, kisah yang menjadi saebuah gejala cakra manggilingan saat carut marut suatu tatanan dalam satu negara sudah paling akut,muncul sekian banyak dampak yang menciptakan rakyat untrust dengan semua pemimpin,pejabat,tokoh ataupun elit elit politik yang kian tidak dapat merakyat.

Dikisahkan pada satu masa-masa negri seputar Amarta,hastina dan lainnya merasakan keterpurukan yang luar biasa,kemiskinan,ketimpangan ketamakan menjadi parameter yang kian menjadi trend gaya hidup satu negara.

Ditengah galaunya kehidupan sosial masyarakat ,seorang punakawan yang menjadi abdi setia seorang satria Pandawa yang berjuluk Harjuna ,mendobrak mainstrame yang ada.

Memberanikan diri memasang badan guna mendeklarasikan diri sebagai seorang raja dengan julukan Raden Kanthong Bolong, Petruk seorang abdi yang selalu setia,penurut dan  tidak sedikit protespun kesudahannya harus terpanggil hatinya melihat gejala kerajaan kerajaan ketika itu.

Bukan tanpa dalil gaess,Petruk tersebut sebenarnya anak seorang Dewa yang menjadi sesepuh semua Dewa,namun sebab takdir yang menilai si Petruk mesti menjadi seorang punakawan ialah titah dewa yang tidak dapat dilanggar,namun saking kuatnya penentangan hati Petruk,nekadah dia menabrak seluruh aturan yang ada.

Akibatnya seluruh raja raja murka menyaksikan pendeklarasian diri si Petruk menjadi seorang raja, dengan segala teknik mereka berjuang menjatuhkan Petruk,tak ayal semua peperangan head to head dengan raja raja bahkan dengan majikan Petruk sendiri dilangsungkan sangat sengit.

Namun tak satupun yang sukses mengalahkan Petruk, mereka mesti menanggung malu dengan diungguli oleh Petruk.

Dinamika itu menjadi pembelajaran untuk kaum Priyayi,Ningrat,Bangsawan..ketika rakyat kecil telah marah,gundah dan tidak percaya pada kaum Priyayi yang kodratnya memimpin ,menjadi bertekuk lutut pada kekuatan dashyat rakyat jelata.

Sampai kemudia Petruk menyudahi pembelajarannya pada semua Priyayi itu maka dikembalikanlah keadualatan kedaulatan kerajaan kerajaan itu pada empunya tahtanya.

Nah cerita keberanian Petruk yang memberi pelajaran untuk para Priyayi menjadi satir positif untuk seluruh Priyayi supaya mawas diri dan menghargai rakyat jelata,walau mereka tiada trah,dinasti ataupun keturunan raja,jika telah pada titik kekuatan mereka dapat menurunkan dan mengungguli kaum Priyayi tersebut.

Salam Gembira sobat….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *