NARASOMA Pewaris Tlatah Wilis Harry Tjahjono

NARASOMA Pewaris Tlatah Wilis Harry Tjahjono

Harry Tjahjono
Penulis

Setelah satu bulan menyerap “energi gaib" kampung halaman, saya merasa harus menulis cerita berlatar sejarah Madiun. Bukan cerita sejarah, melainkan sekadar berlatar sejarah, yang membebaskan imajinasi saya untuk  “menciptakan" karakter-karakter tokoh dan “merekonstruksi" bangunan riwayat serta peristiwa-peristiwa yang mereka alami.

Saya memberinya judul NARASOMA Pewaris Tlatah Wilis. Lokasi ceritanya terjadi di seputar kawasan Bulak Pitu Alas Dungus di mana terdapat Sendang Pinatah dan Goa Macan Putih, Dukuh Bantengan, Gumuk Kare, Lembah Gemarang, Gunung Kendhil, Mojorayung, Kedung Bodag, Dusun Prembun dan sejumlah tempat imajinatif lain namun yang barangkali akan dikaitkan dengan nama-nama daerah yang ada di Madiun.

Kurun waktu ceritanya terjadi sekitar Abad XV, ketika Majapahit runtuh, ketika Prabu Brawijaya IV dikisahkan terusir dalam pelarian ke Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, menyisir pegunungan Wilis dan bersemayam di sekitar Candi Sukuh di Gunung Lawu sebelum akhirnya dikisahkan moksa entah di mana. Akan halnya Narasoma adalah pendekar muda murid Resi Bagaspati. Sejak bayi, di jari Narasoma telah melingkar cincin Surya Majapahit. Bahkan cincin tersebut sudah menyatu dengan jarinya, dengan jiwa raganya. Tak heran jika ksatria pendekar yang disebut Pewaris Tlatah Wills itu juga diyakini merupakan salah satu pangeran Pewaris Tahta Majapahit.

Cerita berlatar sejarah itu saya niatkan untuk disajikan sebagai cerita bersambung di Koran Madiun dan neo-vista.com Mudah-mudahan niat saya untuk membaktikan kepenulisan saya untuk kota kelahiran tercinta, dapat memberi manfaat dan memotivasi kebanggaan serta minat budaya Madiun kita.

Salam manusia gembira. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *