SAJAK ORANG BIASA Kitab Puisi Yoyik Lembayung

SAJAK ORANG BIASA Kitab Puisi Yoyik Lembayung

Di peron Stasiun Gambir, Jakarta, menunggu kereta Bangunkarta berangkat ke Madiun, ditemani kumpulan puisi SAJAK ORANG BIASA karya Yoyik Lembayung. Penyair yang hidupnya bersahaja. Yang pilihan katanya bersahaja, jauh dari hasrat mengumbar istilah gagah dan apalagi idiom hiperbola.
Saya mengenal Mas Yoyik sejak 1978. Pribadi yang rendah hati. Sahabat yang menghindari konflik. Kawan berbagi apa saja. Penyair yang setia menulis puisi tentang hal-hal yang sederhana, dan mengungkapkannya dengan sublimitas personal yang menggetarkan hati, yang membangkitkan empati kepada sesama, yang “menyulap" kegetiran realita menjadi keharuan batin manusia.
Menjelang keberangkatan ke kampung halaman, saya terusik sebaris sajak ISYARAT:
…………
Ada yang berbisik padaku
ketika kampung ditinggalkan penghuninya
dan sawah ladang tak lagi berbunga

:Lenguh jiwanya
mengendap di tanah-tanah mati
di cangkul para petani
…………
Di peron Stasiun Gambir Jakarta, waktu bergulir, angin berlarian di tiang baja, dan saya dimanjakan puisi-puisi Mas Yoyik yang memesona….

TERMINAL
Jangan takut pulang malam
masih ada kendara yang akan mengantarnu pulang

Bangku besi renungi diri
aspal jalanan basah genangan oli
paturasan penuh birahi lelaki yang tak punya bini

Selalu menunggu yang datang dan yang pergi
peduli mereka yang tak ingat jalan kembali
siang atau malam jagai perjalanan

Jangan takut
aku akan terus menemanimu
ke terminal yang menawarkan banyak tujuan

Blok M, 2017

Harry Tjahjono

2 Komentar

  1. Gimana cara ikut nulis di sini?

    1. Author

      bikin akunnya ya om ntar bisa nulis jadi kontributor,thanks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *