SUKRASANA MONUMEN INTEGRITAS-KOMITMEN “BUKAN MAKHLUK PENCITRAAN & SALON”Donny Aries

SUKRASANA MONUMEN INTEGRITAS-KOMITMEN “BUKAN MAKHLUK PENCITRAAN & SALON”Donny Aries

Donny Aries
Penulis

Sukrasana ialah monumen kesetiaan, integritas, dan komitmen yang sudah menjadi rujukan kolektif.

Tokoh pewayangan yang digambarkan berwujud Raksasa Bajang yang sakti mandraguna,memiliki kesetiaan yang mutlak dan komitmen pada semua ucapannya.

Putra dari Begawan Suwanda Geni,dari pertapan Jatisarana,karena kesetiaan dan kecintaannya pada saudara tuanya,membuat nyawanya pun dikorbankan untuk kecintaan dan kesetiaanya pada sang kakak.

Tokoh yang tidak pernah hitung hitungan dalam segala tindakan dan pengorbanan untuk kebahagiaan orang lain, tatkala Sumantri melamar menjadi punggawa kerajaan Harjuna Sasrabahu,untuk memindahkan taman Sriwedari di khayangan betara Wisnu ke Kerajaan Maespati.

Sumantri yang putus asa merasa tidak mungkin untuk melakukan pekerjaan tersebut,tanpa diminta Sukrasana membantu sang kakak dengan sekejab mata pindahlah Taman Sriwedari ke Maespati.

Sukrasana yang dengan kepolosannya juga melepaskan nyawanya ditangan kakaknya ketika Sumantri disuruh menyingkirkan Sukrasana oleh Raja Harjuna Sasrabahu.

Realita pemimpin layaknya Sukrasana menjadi langka ,dia yang begitu polos,jauh dari kesan mewah,kinclong atau bahkan memilih menggalang pencitraan.

Sukrasana yang apa adanya dengan ketulusan hati,kerja keras tanpa hitung hitungan menjadi pendobrak strategi strategi manusia salon yang berkutat pada pencitraan,mempersolek diri guna mendapat simpati,menggiring opini untuk sebuah citra.

Sukrasana adalah simbol esensi atau makhluk substansi yang tak butuh rumbai- rumbai artifisial dan mentalitas kemaruk. Ia telah mencapai titik kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan; sebuah fase di mana ia mampu melenyapkan seluruh ego dan superegonya.

Ia selalu berpikir bahwa dirinya tak lebih dari sekadar titah, makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban profetis, semacam tugas kenabian untuk membeberkan dan mewujudkan nilai-nilai ideal kehidupan. Satu-satunya pamrih dalam dirinya adalah pencapaian cita-cita yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Bukan ingin dipuji atau merampas simpati publik.

Bagi  ”Sukrasana”, segala pencitraan tak lebih dari kosmetik untuk menutupi berbagai borok, baik borok personal, borok politik, maupun borok sosial. Sukrasana tak butuh bedak dan gincu pencitraan karena ia tak punya borok. Ia sangat percaya diri untuk tampil lugas, apa adanya, penuh sikap kesatria. Ini dadaku, mana dadamu, begitu ia berucap tanpa niat sombong, tapi tegas dan berani.

Bravo Sukrasana…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *