03 Persembahan Perawan

03 Persembahan Perawan

03
Persembahan Perawan

Demikianlah yang tersurat dalam kehidupan
Sangaji dan Salindri, sepasang duta kebahagiaan,
juga para pengantin yang disucikan pernikahan,
tatkala kedua pasangan saling mempersembahkan
keperjakaan dan keperawanan
di malam kebahagiaan.
Barangkali terasa kuno, dan mengherankan,
apabila di abad yang ditandai peradaban zaman edan,
di mana zinah dimaknai sebagai modernisasi kehidupan,
masih mengagungkan keperjakaan dan keperawanan.

Barangkali juga terasa lucu, dan menggelikan,
apabila di zaman yang memuliakan kebebasan
ada yang masih mempercayai lembaga perkawinan
sebagai salah satu jalan menuju kebahagiaan.
Atau barangkali akan terasa sangat merepotkan,
bila di masa apa saja bisa dipesan dalam kemasan instan,
masih ada yang bersedia menjalani suatu kehidupan,
yang sarat tata cara dan dibatasi berbagai aturan,
demi mendapatkan sesuatu yang didambakan,
walaupun sama sekali tak ada jaminan kepastian
bahwa yang akan terwujud dalam kenyataan
sesuai persis dengan apa yang diharapkan.
Perihal zinah dan makna modernisasi,
dalam Kitab Smaragama tertulis wacana begini:
“Jika makna peradaban modem itu juga berarti
kebebasan berzinah bagi kaum perempuan dan lelaki,
beda apa manusia dengan ayam, kambing, atau kelinci?"
Dan tentang memuliakan kebebasan,
Kitab Smaragama mengatakannya demikian:
“Mereka yang memuliakan kebebasan
seringkali justru memenjarakan kebebasan
di dalam sebuah bingkai suatu pengertian
yang dirakit sejumlah pembenaran
dan ditetapkan sebagai tujuan.

Bukankah seperti tercatat di banyak pengalaman,
bahwasanya yang memuliakan kedermawanan,
tak lantas berarti mereka benar-benar dermawan,
walau hanya sorga pula yang mereka rindukan,
sebagai tujuan akhir setelah dijemput kematian?’
Sedangkan mengenai tata cara dan upacara
yang mewarnai kehidupan dan kebudayaan manusia,
lagi-lagi Kitab Smaragama bertanya:
“Seperti apa gerangan kehidupan manusia
seandainya ketika Adam memandang daun di sekitamya
semata-mata hanya melihatnya sebagai daun belaka,
dan bukan sebagai pakaian penutup ketelanjangannya?”

Demikian pula yang sesungguhnya terjadi
pada sepasang pengantin ketika pertama kali

memasuki kehidupan sebagai suami istri,
yakni berada dalam suatu situasi dan kondisi
seperti ketika Adam dan Hawa turun di bumi,
saat segala sesuatu harus dikerjakan sendiri
tanpa bekal pengetahuan yang memadai,
tentang bagaimana mulai mengawali
percintaan yang indah dan bisa dinikmati,
juga agar tak terjadi tindakan saling menyakiti,
pun di saat keperawanan sang istri
memberikan kesaksian dengan darah suci.
Kepada pengantin lelaki telah dijelaskan,
bagaimana dan apa yang seyoganya dilakukan
saat menerima anugerah memetik kesucian
secara indah, nikmat, nyaman, dan aman,
maka sekarang giliran pengantin perempuan
yang mendapatkan wejangan demikian:
“Malam pertama pemikahan,
adalah malam persembahan perawan,
sebuah malam yang tak mudah terlupakan,
dan yang di sepanjang hidup perempuan
hanya satu kali terjadi-sekali, tak tergantikan,
seperti halnya kelahiran, dan juga kematian,
cuma terjadi sekali di awal dan akhir kehidupan,
sehingga tak patut apabila disia-siakan.
Maka setiap pengantin perempuan
hendaknya mengerti bagaimana melaksanakan
dan mengetahui apa saja yang mesti dilakukan
sebelum berbaring di ranjang peraduan.
Yang mesti dilakukan pertama kali,
adalah merendam diri dalam kolam melati,
setidaknya sucikanlah ragamu dengan mandi
bersihkanlah sekujur tubuhmu secara teliti,
hingga lekuk-liku lipatan paling tersembunyi,
dan harumkanlah badanmu supaya wangi,
riaslah wajahmu agar tampak berseri,
setelah pasti semua beres dan rapi,
maka tibalah saatnya menemui suami.
Apabila tak ada perasaan gamang
biarkan saja kamar pengantin terang benderang,
namun jika muncul rasa malu atau bimbang,
upayakan tercipta ruang yang remang-remang,
dan alunan musik yang sayup mengambang
akan membuat kalian berdua serasa ditimang,
diayun- ayun gairah birahi yang menggelombang,
melayang-layang di langit fantasi kasih sayang.
Dan biarlah tubuhmu yang telanjang,
hanya terbalut gaun malam tipis membayang,
agar gairah birahi semakin giat menggelinjang,
supaya langit fantasi kian panas terangsang,
dan ketika angan-angan sudah mabuk kepayang
ayunkan langkah perlahan-lahan menuju ranjang,

menghampiri suamimu yang diam memandang,
lalu perlahan-lahan pula berbaringlah telentang,
dan berusahalah terlihat senang namun tenang,
walau bumi terasa bergoyang-goyang.
Sucikanlah pikiran dan angan-angan,
dari hal-hal selain malam persembahan perawan.
Kosongkanlah perasaan dan relung hati
dari segala macam urusan dan beban duniawi,
karena pada malam itu engkau ibarat bayi,
yang akan dibelai, dikecup, dielus, dan diciumi.
Dan apabila kau rasakan sentuhan,
atau bahkan jika kau tahu gaunmu ditanggalkan,
tak perlu malu atau mencoba mempertahankan
dengan gerakan ataupun dengan perkataan.
Pun apabila kecup cium suamimu
yang semula mengulum kelembutan bibirmu,
perlahan merayap turun menyusuri tubuhmu,
bahkan jika menyelinap di lipatan berliku
di bawah perut di sela kedua pahamu,
nikmati saja tanpa rasa ragu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *