04 Memanah Rembulan

04 Memanah Rembulan

Bisa berbicara seperti halnya manusia,
hanyalah salah satu keajaiban Kitab Smaragama. Dan sesungguhnya masih tak terhingga banyaknya
keajaiban dan kegaiban yang dapat dilakukannya,
antara lain bisa mengubah cinta menjadi mantra
yang dapat menyembuhkan segala macam duka,
juga bisa menyenandungkan lagu pelipur lara,
bahkan bisa menjelma menjadi Smaradahana,
yakni menggaibkan diri ke dalam titik api asmara,
yang mampu membakar jiwa siapa saja.
Namun keajaiban sekaligus kegaiban,
yang luar biasa dan sangat mencengangkan,
adalah kesanggupannya mewujudkan
kata-kata dan wejangan yang ia ucapkan,
dalam bentuk hologram yang menakjubkan,
dan jauh lebih luar biasa dibanding sulapan
yang cuma sekadar memperdaya akal pikiran
dengan ilusi yang dikemas kepura-puraan.
Dan perwujudan hologram itu terjadi,
di kamar, di depan mata Sangaji dan Salindri
yang pada malam itu, menjelang dini hari,
baru saja menyempurnakan percintaan suci
dengan saling menerima dan saling memberi
keperjakaan dan keperawanan sebagai bukti
kesetiaan menempuh jalan hidup terpuji,
dan kesanggupan untuk tidak menodai
nilai hakiki cinta sejati.
Sangaji dan Salindri diam tercekam,
berbaring di ranjang, menonton ulah hologram
perempuan dan lelaki serupa Eva dan Adam
sedang bercumbu mesra bertilam alam,
di bawah langit malam bertabur ilham,
dimanja rembulan yang redup temaram.
Akan halnya Kitab Smaragama, dengan suara jernih dan teduh berkata:
“Sepasang hologram itu menjelma
demi membuka sebuah rahasia seni bercinta
dan menerjemahkan seluk-beluknya
dalam bentuk gerakan dan tindakan nyata
agar kalian dapat melihatnya dengan mata,
dan mengerti bagaimana melakukannya,
seperti halnya bila suara dan kata-kata
kalian dengarkan dengan telinga
sebelum cahaya akal budi kalian berdua
menangkap dan memahami maknanya.
Kini saksikan dengan seksama,
apa saja yang dilakukan mereka berdua,
dan bagaimana mereka melakukannya.
12
Perlu juga kalian dengarkan
Wejangan berikut rincian penjelasan
tentang keindahan dalam kenikmatan
dan kenikmatan di dalam keindahan
seni bercinta Memanah Rembulan."
Salindri dan Sangaji membisu,
lantaran masih memendam rasa malu,
sekilas saling lirik, tersipu-sipu,
lalu pandangan mereka kembali tertuju
pada hologram yang mulai bercumbu,
dan bersamaan dengan itu
Kitab Smaragama berkata syahdu:
“Mereka hologram pengantin baru,
perjaka dan perawan yang masih lugu."
Sangaji dan Salindri mengiyakan,
sambil tetap memusatkan perhatian,
dan mencatatnya di dalam ingatan
posisi dan gerak penuh kelembutan,
yakni seni bercinta yang dinamakan:
“Memanah Rembulan"
Di mata Sangaji dan Salindri,
hologram itu serupa sepasang dewa-dewi
yang melayang mengarungi langit mimpi,
menari-nari sambil saling melucuti
pakaian dan menjatuhkannya ke bumi.
Semesta seakan dimangsa sunyi
ketika hologram Eva membaringkan diri
perlahan-lahan mengambil posisi
diam telentang memandang sang suami,
dengan cinta yang memancar dari hati,
dengan kesabaran dan kerelaan menanti
dengan kepasrahan untuk digauli.
Dalam temaram sinar rembulan
hologram Adam bergerak pelan-pelan
berbaring di sisi Eva yang menantikan
peristiwa yang sudah lama dirindukan.
Tatkala Adam mengulurkan jemari
menyentuh rambut, pelipis, mengusap pipi,
kedua mata Eva terpejam menahan geli.
Dan Adam menundukkan wajah
melumat lembut bibir Eva yang basah
dan ketika Eva menggeliat mendesah
Adam lekas menyelinapkan ujung lidah,
sementara jemarinya bergerak merambah
mengembarai lekuk-liku seluruh wilayah
yang dapat dijangkau dan bisa dijamah,
juga mendaki bukit yang penuh melimpah,
menyusuri penjuru ngarai dan lembah,
mengantarkan Eva ke puncak gairah,
13
di pintu birahi yang rengkah merekah,
dan bila lorong kerinduan melicin basah,
itu pertanda Eva sepenuhnya pasrah.
Maka Kitab Smaragama berkata:
“Bagi yang baru pertama kali
melakukan hubungan intim suami istri
hendaknya mengetahui wejangan ini.
Satu, tak perlu terburu-buru,
walau seakan hangus terbakar nafsu,
karena akan selalu masih cukup waktu
untuk saling bercumbu dan menunggu
saat yang tepat untuk menyatu.
Dua, ungkapkanlah perhatianmu,
bisikkanlah isi hati dan kasih sayangmu,
agar tercipta rasa aman di dalam kalbu,
karena siapapun tentu tahu
saat pertama kali mengalami hal itu
selalu gugup dan bahkan ragu.
Tiga, lakukanlah pelan-pelan,
dan pastikan kalian memang menginginkan,
namun demikian jangan langsung menekan,
lakukanlah dengan sepenuh kelembutan.
Empat, pilihlah posisi yang wajar,
karena yang wajar itu nyaman, dan lancar
karena yang wajar itu aman, dan benar.
Lima, demi cinta dan kehidupan
bukakanlah pintu menuju lorong kerinduan,
agar suamimu tahu bahwa ia telah diijinkan
menanamkan benih kehidupan.
Dan suami yang penuh pengertian
akan selalu dan sangat memperhatikan
hasrat sang istri yang tak terucapkan.
Suami yang bijak dan berperasaan
tentu juga mampu membedakan
reaksi yang muncul dari kenikmatan
dengan ekspresi yang mencerminkan
keterpaksaan menahan kepedihan"
Demikian kata Kitab Smaragama, begitu pula yang dilakukan Adam dan Eva.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *