Smaragama (Malam Perawan)

Smaragama (Malam Perawan)

HARRY TJAHJONO

Smaragama

Kitab Rahasia Seni Bercinta

Selain Kamasutra yang terbit sekitar tahun 322-298 SM, bisa jadi hanya Smaragama satu-satunya prosa liris tentang seks.

“Bagi kalian yang baru pertama kali
melakukan hubungan intim suami istri
hendaknya mengetahui wejangan ini.”
“Kepada kalian diberikan indra penciuman,
maka berciumanlah dengan masing-masing pasangan,
kecup-kucuplah harum sekujur penjuru badan,
biarkan bibir kalian merasai manisnya madu kemesraan,
biarkan lidah kalian bertualang di belantara perbukitan,
memanjat tugu kerinduan dan menari di ujung lingkaran,
mengembarai kelembutan ngarai berhutan,
dan menemukan permata idaman"

SEKS

Seks, selalu lebih menarik daripada bukan seks.
Karena itulah, barangkali, yang membuat film, media cetak dan
gemerlap entertainment dibumbui seks sebagai daya tarik untuk
memikat peminat.
Smaragama, pada mulanya ditulis dan dimaksudkan juga sebagai
daya tarik untuk memikat pembaca PRO-TV—sebuah tabloid yang saya
bidani bersama Arswendo Atmowiloto. Meski cuma bertahan terbit
selama dua tahun, 1999 s/d 2000, sejumlah tabloid nasional yang
beredar saat itu serta-merta mengekor jurnalisme visual PRO-TV. Dan
selama dua tahun itu pula Kitab Smaragama menjadi rubrik yang
paling disukai pembaca PRO-TV. Jauh sebelum Smaragama ditulis, tentu saja sudah banyak artikel
tentang seks yang dipublikasikan media massa. Sebagian dikemas
dalam bahasa ilmiah populer, sebagian digelar vulgar berikut gambar.
Cara penyampaiannya juga beragam—tanya jawab, esai, kisah nyata,
berita, fiksi atau parade foto lher. Lantaran ingin menyajikan sesuatu
yang “baru”, setidaknya berbeda dari yang sudah ada, Smaragama
memilih prosa liris sebagai format penulisan.
Smaragama, memang bukan satu-satunya buku seks di dunia.
Tapi, selain Kamasutra yang diperkirakan terbit sekitar tahun 322-298
Sebelum Masehi, bisa jadi hanya Smaragama satu-satunya prosa liris
tentang seks.
Seks, apa boleh buat, selalu lebih menarik daripada bukan seks.
Dan seks yang dituturkan dengan prosa liris, ternyata juga bisa
puitis (dan lucu)—terutama bisa menampik istilah klise atau idiom vulgar
yang menghina kecerdasan.

Salam,
Harry Tjahjono

01
Malam Perawan

Syahdan rahasia keindahan seni bercinta,
dan cara-cara mencapai puncak kenikmatannya,
yang terkandung di dalam Kitab Smaragama, sesungguhnya hanya dibeberkan kepada mereka,

Sangaji dan Salindri yang berbahagia,
dan pasangan lelaki perempuan dewasa,
yang saling mencintai, dan saling percaya,

bersatu dalam perkawinan, berdua rela menerima
kehidupan yang tak lagi sepenuhnya merdeka,
walaupun sesungguhnya perkawinan yang mulia,
tak akan membuat mereka kehilangan apa-apa,
seperti pada bab pertama Kitab Smaragama
tertulis wacana bahwasanya:

“Pernikahan bukanlah upacara yang menandai
tamatnya riwayat kebebasan pribadi suami atau istri.
Karena pernikahan justru memberikan kebebasan sejati
yang hanya dapat dimiliki suami dan istri,
yakni kebebasan mengarungi gelora gairah birahi,
kebebasan menikmati kemesraan bercinta sepuas hati,
kebebasan untuk saling mengintimi.

Dan ikatan pernikahan bukanlah belenggu,
yang memborgol jati diri masing-masing individu.
Tali perkawinan hanya memenjarakan ruang dan waktu,
agar di mana dan kapanpun suami istri bebas bercumbu,
demi kelahiran dan kehidupan anak cucu yang bermutu. "
Maka sebagaimana yang telah dijanjikan,
Sangaji dan Salindri yang baru disucikan pernikahan,
dan terpilih menjadi sepasang duta kebahagiaan,
beranjak turun meninggalkan pelaminan,
memasuki kamar peraduan yang nyaman,
dan berbaring di ranjang pengantin, altar peradaban.

Dalam gerak perlahan, sepenuh kelembutan,
Sangaji dan Salindri, sepasang duta kebahagiaan,
saling menelanjangi diri, dan membuka kesadaran
agar dapat memahami Smaragama yang membukakan
rahasia keindahan cinta dan nikmat percintaan,
serta cara menelusuri pusat-pusat rangsangan
yang paling peka dan teramat rawan sentuhan,
agar gelinjang getar-getar kenikmatan
sampai mencapai puncak-puncak kepuasan
yang lebih tinggi dari semua ketinggian.
Maka tibalah saatnya menyimak dan memahami
wejangan Smaragama kepada pasangan suami istri:

“Ada dua perkara yang akan mengawali,
dan yang akan mewarnai kehidupan suami istri.
Pertama tentang kesediaan menerima dan memberi.
Kedua ihwal mengerti apa yang dimiliki dan mensyukuri.
Kesediaan menerima kekurangan pasangannya,

dan kesediaan memberi yang terbaik pada belahan jiwa,
hendaknya dipahami sebagai keikhlasan yang niscaya,
demi terciptanya kebahagiaan rumah tangga.
Hendaknya pula setiap suami dan setiap istri
mengerti apa yang dimiliki, agar dapat mensyukuri.

Dan ketahuilah wahai pengantin segala usia,
bahwa suami yang rela menjadi milik istrinya,
dan istri yang ikhlas menjadi milik suaminya,
sesungguhnya telah memiliki segala-galanya.
Kepada kalian telah diberikan indra penglihatan,
tapi mengapa seringkali kalian sia-siakan,
pemandangan yang lebih indah dari keindahan,
dan yang menjanjikan petualangan mendebarkan?

Maka segeralah kalian saling menyaksikan,
panorama rahasia yang ada di sekujur badan,
di pucuk bukit kembar, di batang tugu kerinduan,
dan apabila seksama akan kalian temukan,
permata yang disembunyikan ngarai berhutan."
Dan Sangaji yang syahwatnya mulai terbelai birahi,
saat melirik Salindri segera disergap jerat sensasi.
Dan gairah sensasi birahi yang semakin meninggi,
memang masih bisa dijinakkan oleh Sangaji
dengan keunggulan akal budi.

Kemudian wejangan Smaragama kembali dibacakan:
“Kepada kalian diberikan juga indra penciuman,
maka berciumanlah dengan masing-masing pasangan,
kecup-kucuplah harum sekujur penjuru badan,
biarkan bibir kalian merasai manisnya madu kemesraan,
biarkan lidah kalian bertualang di belantara perbukitan,
memanjat tugu kerinduan dan menari di ujung lingkaran,
mengembarai kelembutan ngarai berhutan,
dan menemukan permata idaman"
Sangaji mendadak gagap, tiba-tiba terbisu,
lalu menatap Salindri, dan sama-sama tersipu,
sama-sama malu-malu, sama-sama ragu-ragu.

Dan pipi Salindri segera merana merah jambu,
rambutnya tersibak menggerai menuruni bahu.
Dan tengkuknya yang ditumbuhi bulu selembut beludru,
berkerut merinding menyerupai kulit jeruk limau,
saat jemari birahi mulai menjamah dan mencumbu.

Menyaksikan tengkuk Salindri yang merinding berbulu,
api gairah birahi Sangaji segera berkobar menderu,
dan sensasi libidonya menggelinjang menggebu-gebu,
mengkili-kili batang tugunya yang meregang kaku,
sehingga di celah bawah pangkuannya yang ngilu
seperti terimpit sebuah ulegan batu.

Maka Sangaji menutup Kitab Smaragama, karena telah tiba saatnya mencicipi malam pertama,
dan menjelmakan rahasia keindahan seni bercinta,
tak hanya dalam bentuk rangkaian kata-kata,
tapi menjadi suatu tindakan nyata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *