Sontolojoss: JAKARTA BABAK BENGKAK! by HARRY TJAHJONO Penghayat Humor

Sontolojoss: JAKARTA BABAK BENGKAK! by HARRY TJAHJONO Penghayat Humor

Harry Tjahjono
Penghayat Humor

——————————————————————————————————————————
Sontolojoss adalah insan kampung yang semula bertabiat negative thinking, aprioristik dan berstamina loyo ternyata mampu bermetamorfosa menjadi pribadi yang berbaik sangka, berpikir positif, berusaha bijak dan berstamina joss. Alhasil dari Sontoloyo menjadi Sontolojoss. Gitu aja.
——————————————————————————————————————————

Pagi itu, seperti biasa, Sontolojoss niat sarapan di warung nasi uduk Bu Nyunyun, langganan warga Joglo, Jakarta Selatan. Kebetulan warung pas sepi. Namun, baru saja duduk, Bu Nyunyun langsung menyodorkam android sambil nyerocos.

“Lihat dan baca nih! Jakarta ditinggal Ahok belum babak belur udah babak bengkak! Masak Tim Pembantu Gubernur di zaman Ahok cuma 15 orang, sekarang jadi bengkak 74 orang!" geram Bu Nyunyun yang meski paroh baya tapi tergolong milineal kekinian yang aktif bermedsos lewat FB, Twitter dan tentu saja WA.

Setelah baca selintas, Sontolojoss menyahut adem, “Ya baguslah. Itu berarti sudah ngasih lapangan kerja pada 59 orang. Dengan begitu jumlah pengangguran kan jadi berkurang. Apalagi kan banyak juga sarjana yang nganggur. Kalau dikasih kerja ya bagus dong…."

“Bengkak kok bagus! Kalo bengkak orangnya kan juga bengkak dana anggaran buat nggaji. Zaman Ahok cuma Rp4,5 miliar. Sekarang jadi Rp28 miliar. Gimana itu coba?" sahut Bu Nyuyun sewot.

“Ya baguslah. Berarti waktu Ahok Gubernur, Pemprov DKI duitnya belum banyak. Nah, sekarang setelah ditinggal Ahok, Pemprov DKI duitnya jadi banyak. Berarti ada kemajuan, ada progress nyata. Bagus kan itu?" kata Sontolojoss sejuk.

“Tapi menurut Pergub 2015, Tim Pembantu Gubernur itu kan dibatasi paling banyak 15 orang. Kalau sekarang jadi 74 orang kan berarti melanggar Pergub! Lha Gubernur kok melanggar Pergubnya sendiri!" sambar Bu Nyunyun ngotot.

“Itu kan Pergub yang lama, Bu Nyunyuuun… Gubernur now kan bisa bikin Pergub baru bahwa Tim Pembantu Gubernur jadi 74 atau 200 orang kan boleh- boleh saja? Sekarang daripada ngomongin orang mending Bu Nyunyun ambilin uduk sama rendang jengkol," kata Sontolojoss memohon.

“Ntar dulu!! Saya mau tanya, gimana itu soal Anggaran Kunker DPRD DKI 2018 yang membengkak jadi Rp107 miliar lebih? Padahal zaman Gubernur Ahok Anggaran Kunker DPRD DKI cuma Rp 45.6 miliar. Kenapa bengkaknya kok nggak kira-kira?! Kenapa, coba?!" serbu Bu Nyunyun.

“Mungkin karena Ahok memang pelit, apalagi hubungannya dengan DPRD DKI kan nggak baik, nggak kompak, malah pernah nuduh ada dana siluman dan sebagainya sampai dia dimaki anjing sama anggota dewan. Lagian ongkos Kunker di lima negara kan nggak murah. Wajar kalau Anggaran Kunker jadi Rp107 miliar. Wajarlah," kata Sontolojoss santun.

“Bengkak kok wajar. Kalau yang ikut Kunker sampai 7.500 orang itu namanya…."

Sebelum panjang, Sontolojoss lekas memotong adem, “Sebentar, sabar dulu. Saya mau nanya nih. Waktu Pilgub DKI kemarin Bu Nyunyun nyoblos Ahok ya?"

“Iya, dong!"

“Oo kalau gitu berarti Bu Nyunyun belum move-on. Zaman sudah berubah, Bu Nyunyuuun. Gubernur DKI sudah ganti. Bu Nyunyun harus bisa move-on. Sekarang tolong ambilin saya nasi uduk, rendang jengkol trus disiram kuah opor tahu. Lapeer banget saya…," kata Sontolojoss memohon.

Sambil cemberut, Bu Nyunyun narok Android lantas menyiapkan sarapan Sontolojoss. Dan alhamdulillah, meskipun Bu Nyunyun belum move-on, kelezatan nasi uduk rendang jengkol berkuah opor tahu olahannya tidak tergerus jaman now*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *