Nonton Film THE HURRICANE HEIST Oleh Heryus Saputro Samhudi

Nonton Film THE HURRICANE HEIST Oleh Heryus Saputro Samhudi

Badai pasti berlalu, begitu optimisisme kaum romantik dalam menyikapi problema hidup. Kalimat puitis yang memenuhi kaidah ilmiah, karena badai memang tak pernah berlangsung lama. Paling banter  berkisar satu jam, lalu badai ’pulang’ entah kemana dan cuaca cerah lagi. Cuma, belajar dari pengalaman, para pelaut tua selalu bilang ”Jangan menentang badai, apalagi masuk ke pusarnya. Kau akan tersedot masuk ke corong udara yang bahkan mampu menerbangkan  truk bermuatan penuh.”

Siklon tropis hurricane atau angin topan atau taifun, memang merupakan fenomena cuaca buruk yang bisa terjadi dimana saja, dengan katagori dan daya rusak masing-masing. Pusaran awan yang terbentuk di udara bisa cuma bergaris tengah beberapa kilometer, tapi bisa juga puluhan kilomer, berpusing di atas samudera, dan tak jarang membentuk kolon udara yang kita kenal sebagai  puting beliung atau bangsa Indian menyebutnya tornado, yang mampu menyedot jutaan meter kubik air laut, juga material tanah dan puing bangunan saat ia bergerak melintasi daratan.

Fenomena alam ini juga kerap terjadi di Amerika Serikat, mengilhami sutradara Rob Cohen (sutradara film laris The Mummy. Tomb of The Dragon Emperor dan seri The Fast and the Furious) menggarap The Hurricane Heist. Di syuting di Bulgaria, film produksi Entertainment Studios ini diungkap berdasar skenario karya Carlos Davis, Jeft Dixon, Anthony Fingleton, dan Scott Windhauser. Scene diawali masa kecil Will (Toby Kebbell) dan abangnya Breeze (Ryan Kwanten), yang bersama sang ayah terjebak di pusat badai. Berkat campur tanganNya,  dua bersaudara itu lolos dati maut, walau nyawa ayah mereka tak tertolong. Pengalaman yang menuntun Will menjadi meteorolog, ahli cuaca.

Saat Alabama akan kembali diterjang hurricane, pusat pemantau cuaca tempatnya bekerja menugaskan Will masuk ke ring satu, buat memantau dan mempelajari hurricane lebih detil. Tugas yang dengan senang hati diterima Will. Bukan cuma karena ia bisa  ’pulang kampung’, tapi juga (siapa tahu) bisa membujuk abangnya untuk mau bersama warga lain mengevakuasi diri ke daerah aman. Tapi Breeze  justru merasa nyaman dan memilih bertahan di bengkel miliknya di kota itu.

Di banyak situasi, selalu saja ada orang atau kelompok orang yang suka memancing di air keruh. Sekelompok garong intelek dan berdasi, berencana merampok tiga  truk kontainer berisi 600 juta  lembar dolar ’lama’ milik Departemen Keuangan Amerika Serikat, yang ditarik dari peredaran dan hendak dimusnahkan di instalasi ’pemusnah’ yang ada di kota  itu.

          Kejahatan kelompok tak pernah berdiri sendiri. Ada ’orang dalam’, bahkan  bahkan petugas pengayom masyarakat, terbujuk ikut rencana jahat. Itu sebabnya saat masyarakat sibuk mengevakuasi diri, para garong dengan mudah menguasai instalasi sasarannya. Syukurlah daya badai hurricane ikut merusak bagian tertentu dari jaringan komputerisasi penting di dalam gedung yang dibajak. Kode akses pembuka gerbang tak bisa diretas secara lengkap. Casey (Maggie Grace), pengawas FBI yang bertanggung jawab atas jalannya pemusnahan uang tersebut, dan pemegang kunci akses, sedang berada di luar gedung. Casey harus ditangkap, agar truk uang bisa dibawa kabur keluar. Pengejaran pun berlangsung di tengah badai, di antara letusan peluru untuk saling melumpuhkan.

Tapi bagaimana Will dan Breeze bisa bergabung dengan Casey, menjegah kejahatan terorganisir ini? The Hurricane Heits sungguh film action-thriller layak tonton.

Skenario yang ditulis bareng oleh Toby Kebbell, Maggie Grace, Ryan Kwanten, Ralph Ineson, Melissa Bolona, dan Ben Cross memaparkan alur cerita penuh aksi kebut-kebutan, dengan satu dua letusan peluru di tengah amuk badai yang sebagian (selain stock shoot ‘wajah’ hurricane sungguhan) merupakan rekayasa virtual yang di-shoot di studio, dan di-mix ke frame seluloid dengan bantuan perangkat CGI atau Computerized Generation Imagery.

Film-film cerita di masa kini memang sdah biasa memanfaatkan perangkat lunak CGI, yang mampu membuat suatu gambar mendekati gambaran sesungguhnya. Ihwal pemanfaatan CGI bukan hal baru bagi Rob Cohen. Tahun 2008 misalnya, saat menggarap The Mummy. Tomb of The Dragon Emperor, dengan bantuan perangkat CGI Rob Cohen berhasil mencipta adegan badai pasir berlatar Piramida dan Spinx di gurun Mesir, yang selah sedang mengejar penunggang kuda, sosok hero di film itu. Dalam The Hurricane Heits lagi-lagi Rob Cohen juga berhasil menciptakan adegan dimana badai hurricane sedang mengejar truk-truk berisi tumpukan dolar yang dibawa kabur para garong.

Rob Cohen juga ‘jago’nya adegan balap mobil, dengan mobil-mobil special sebagaimana yang selalu muncul di seri The The Fast and the Furious. Sebuah prototype jip tangguh, yang barangkali akan jadi trend di dunia nyata kelak, juga muncul jadi mobil dinas tunggangan Will di sepanjang film The Hurricane Heits.

Penasaran? Tontonlah di bioskop terdekat, ha…ha…ha…!  (Heryus Saputro Samhudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *